Tarian Dandelion
Karya : Novi Handayani
Ini hidupku tapi bukan ceritaku. Bahkan hidupku nyaris tak ada artinya
jika dibandingkan dengan cerita yang akan aku tuliskan. Ini tentangnya
yang tak pernah bisa aku gapai. Tentangnya yang hanya demi dirinya aku
rela memberikan nafasku, tapi aku tahu semuanya tak semudah yang aku
mau. Karena aku dan dia berbeda.
Namanya Hinata.
Aku bertemu dengannya dua tahun yang lalu, saat aku dan keluargaku
pindah ke Bandung, waktu itu aku kelas dua SMA. Aku tak tahu pasti, tapi
kurasa inilah prolog ceritaku karena bermula dari sinilah alur ceritaku
mengalir begitu saja tanpa pernah aku duga. Layaknya sebuah cerita, dia
memang benar-benar sosok perempuan yang digambarkan dalam semua buku
cerita tentang keindahan. Rambutnya hitam sepinggang terlihat serasi
dengan kulitnya yang putih bersih. Matanya sipit dan setiap dia
tersenyum ada lesung pipi yang tersembul di kedua pipinya. Manis sekali.
Tutur katanya lembut, seperti wanita Jawa meskipun yang kutahu dia sama
sekali tak memiliki keturunan darah Jawa.
“Aku
menunggumu di hamparan Dandelion,” Katanya tiba-tiba di hari Minggu yang
cerah di pertengahan Desember yang beku.
Aku
tersenyum menanggapi permintaannya. Dan Minggu itu, aku pergi ke
hamparan Dandelion yang dia maksud. Saat tiba di sana, aku melihatnya
sedang duduk menungguku. Dia mengenakan dress warna putih bersih dengan
rambut terurai. Aku tak tahu kapan aku akan terbiasa dengan segala
pesonanya. Jadi dengan hati berdebar aku mendatanginya dan duduk di
sampingnya.
“Kau terlambat lima belas menit,” Katanya
dengan suara pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari hamparan
Dandelion yang memukau.
“Maaf,” aku menyesal telah membuatnya menunggu.
“Kumaafkan,” katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku menatap matanya
yang bening dan ritme detakan jantungku bertambah cepat. Aku bisa
melihat ada rona merah di sekitar pipinya dan dia langsung mengalihkan
pandangannya ke depan.
Hening! Aku tak tahu harus
berkata apa untuk mencairkan suasana yang beku ini. Mulutku serasa
terkunci dan aku mengerang tertahan. Hanya dia satu-satunya perempuan
yang membuatku tak berkutik seperti ini. Aku membencinya karena aku tak
bisa menolak pesonanya sehingga terjerat dalam ketidaknormalan ini.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, meniup rambutnya dan beberapa
Dandelion. Aku bisa melihat senyuman yang terukir dari bibirnya, dan itu
membuatku merasa seribu kali lebih baik. Biarlah keheningan ini
menelanku asal aku bisa merasakan romantisme tanpa bahasa yang
menjabarkan semuanya. Hingga matahari kembali ke peraduannya.
“Sudah sore, aku mau pulang. Terimakasih karena telah menemaniku di
sini,” Katanya sambil memetik beberapa tangkai Dandelion sebelum
tersenyum padaku.
Aku membalas senyumnya, “Dengan senang hati.”
Lalu kami pulang, rumahnya tepat berada di depan rumahku. Saat dalam
perjalanan, dia masih tak juga mengatakan apapun. Dan kali ini diamnya
mengusikku. “Kau kenapa?” tanyaku.
Dia menatapku bingung. “Memangnya aku kenapa?”
“Dari tadi kau diam terus.”
Dia tak langsung menjawab dan saat kami telah tiba di depan rumahnya
dia berkata, “Aku merasa nyaman dengan diamku. Itu saja!” dia langsung
keluar dari dalam mobil, “Bagaimana pun juga, aku senang kau menemaniku.
Selamat malam.”
Aku menatap punggungnya yang semakin
lama semakin mengecil dan menghilang saat dia sudah masuk ke dalam
rumah. Aku menarik napas panjang sebelum memarkirkan mobilku dan masuk
ke dalam kamar. Aku melihat lampu kamarnya menyala, dan itu membuatku
terdiam. Aku hanya berdiri terpaku dan berharap semuanya akan baik-baik
saja.
Tapi aku semakin takut, saat keesokan harinya
dia menelponku dan berkata akan menungguku di Taman Kanak-Kanak saat aku
sedang berlatih basket. Aku tak tahu jenis ketakutan apa yang tengah
melandaku. Irasional mungkin, karena jelas-jelas tak ada yang perlu
ditakutkan. Jadi aku putuskan akan menemuinya di Taman Kanak-Kanak.
“Deri, maaf aku tak bisa ikut latihan. Aku harus pergi.” Kataku meminta izin.
“Perempuan mana yang membuatmu meninggalkan latihan kita?” Aku
melihatnya tersenyum sinis dan aku ingin sekali menghajarnya.
“Bukan urusanmu!” Aku mendecih dan meninggalkan lapangan basket sebelum aku benar-benar tergoda untuk memukulnya.
“Tentu saja itu urusanku. Lomba sudah di depan mata dan kau meninggalkan latihan hanya untuk berkencan.”
Aku berhenti sejenak untuk memikirkan kata-katanya. Sebersit perasaan
bersalah muncul dalam hatiku, tapi itu tak mengubah keputusanku. Hinata
sudah menungguku dan akan tetap menemuinya.
Saat aku
tiba di Taman Kanak-kanak, aku melihatnya duduk di atas ayunan. Dia
mengenakan dress warna putih sepanjang lutut dengan rambut di kepang
satu. Aku mengerutkan kening, berapa banyakkah bajunya yang bewarna
putih?
“Hey, apa aku terlambat?” Tanyaku sembari duduk di sampingnya.
Dia memandangku lembut, “Kau sedang latihan?”
Aku bertanya-tanya dari mana dia tahu. Kemudian aku teringat aku masih
mengenakan baju basket. Seharusnya aku berganti pakaian dulu. “Sudah
selesai,” Dustaku.
“Aku minta maaf, kau pasti haus.”
Dia mengeluarkan sebotol air minum dari tasnya dan memberikannya padaku.
Kuterima dengan senang hati dan langsung meneguknya sampai habis.
“Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK,” Katanya sambil
tersenyum lembut dan mengamati segerombolan anak-anak yang tengah
bermain bola.
“Kenapa?” Tanyaku ingin tahu.
“Mereka benar-benar makhluk yang menggemaskan. Pasti menyenangkan
rasanya bila tiap hari dikelilingi dengan wajah tanpa dosa yang tak
pernah memikirkan stratifikasi dalam kehidupan”
Aku
benar-benar tak mengerti apa yang dikatakannya. Tapi tak urung jua aku
mengangguk. Jadi sesorean itu kami menghabiskan waktu dalam diam untuk
mengamati anak-anak itu hingga tak ada lagi anak yang bermain. Dan
setelah melihat mega-mega merah di langit, dia mengajakku pulang.
“Terimakasih untuk hari ini,” Katanya sebelum masuk ke dalam rumah. Aku
bisa melihat lesung pipinya yang selalu aku nantikan saat dia
tersenyum.
“Sama-sama.” Dan dia berbalik meninggalkanku di depan rumahnya.
Aku menutup mataku sambil berusaha mengendurkan sarafku yang tegang.
Aku merasa lelah sekali meskipun aku tak tahu apa penyebabnya. Kali ini
aku tak tahu, akan menantikan apa esok pagi saat aku terbangun.
¥¥¥
“Aku menunggumu di pusat perbelanjaan.” Suara Hinata masih berdengung
di telingaku. Aku semakin tak mengerti apa maunya. Beribu pertanyaan
mampir ke dalam benakku, apakah dia akan seperti hari-hari sebelumnya.
Mengajakku pergi dan mendiamkanku. Aku meremas rambutku frustasi.
“Aku harus pergi,” Kataku sambil mengambil baju ganti dan memakainya.
“Pergi saja!” sahut Deri pedas.
Baiklah, aku tahu kalau aku sekarang sudah benar-benar keterlaluan
karena tidak ikut latihan. Tapi membayangkan Hinata di sana menungguku
sendiri, itu adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami. “Maaf, tapi
aku janji kita akan menang.”
Setelah selesai memakai
baju, aku langsung ke parkiran dan mengambil mobilku untuk menemui
Hinata. Saat aku tiba di sana, seperti biasa dia sudah menungguku. Tapi
kali ini, dia tidak mengenakan dress warna putih melainkan celana
panjang warna biru dan baju warna Ungu. Rambutnya diikat menjadi satu di
sebelah kanan. Sangat kekanak-kanakan. Tapi menurutku dia imut sekali.
“Maaf merepotkanmu,” Hinata langsung tersenyum manis saat aku berjalan ke arahnya.
Aku menggeleng dan mulai mengancamnya, “Tapi aku akan benar-benar
meninggalkanmu jika kau mengajakku hanya untuk menjadi
patungmu.”
Dia merengut, “Tak akan. Kau tenang saja.”
“Baiklah, sekarang kita mau ke mana?” Tanyaku.
Mata Hinata berbinar senang saat mendengar pertanyaanku. Kemudian dia
menarik tanganku keluar dari pusat perbelanjaan. “Aku tahu, kau akan
mengabulkan permintaanku. Aku ingin jalan-jalan.” Aku berhenti jalan,
dan Hinata juga menghentikan jalannya. “Ada apa?”
“Kurasa sebaiknya aku mengambil mobil du…”
“Aku mau jalan, Andri! Bukan naik mobil.” Katanya sambil melepaskan
tanganku. Kemudian dia berjalan duluan di depanku dan aku langsung
menyusulnya.
“Kau marah?”
“Untuk
apa? Aku mau ke jembatan sana. Kau mau ikut tidak?” Aku menggaruk
kepalaku yang tidak gatal dan ikut barjalan di sampingnya. Aku bisa
mendengar Hinata tengah bersenandung kecil. Tampaknya dia sedang
bahagia. Mau tak mau aku ikut tersenyum senang. “Sudah lama sekali aku
tak menghirup udara luar,” Katanya.
“Aku senang sekali mendengarnya. Kalau aku jadi kau aku tak akan pernah
home schooling. Percaya padaku, kau akan menghirup udara luar tiap hari.”
Aku melihatnya menghentikan langkahnya, dan aku juga menghentikan
langkahku. Dia menatapku lama sekali sebelum berjalan menuju ke trotoar
dan duduk di situ. “Aku tak punya pilihan. Dan tak akan pernah punya
pilihan. Karena apa yang aku jalani itu pilihan terbaik.”
“Aku tak mengerti.” Kataku sambil menatap matanya.
Hinata tersenyum ke arahku, dan menunjuk beberapa anak jalanan. “Kau
tahu, mereka tak pernah meminta untuk menjadi seperti mereka. Dan yang
mereka lakukan adalah jalan terbaik meskipun mereka tak suka. Aku pernah
berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak
ingin ada air mata.”
Aku mencoba menyerap segala
kata-katanya dan mengumpulkan ke dalam otakku sehingga aku bisa
menyimpulkan sesuatu. Tapi tak ada kesimpulan apapun yang aku dapatkan,
hanya sebuah pernyataan bahwa aku tak pernah mengenal Hinata. Masih
begitu banyak teka-teki yang ada di setiap sudut ceritanya.
Jadi sore itu, kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang hingga
aku melihat sadar hari sudah petang ,“Ayo pulang,” Ajakku sambil
menggandeng tangannya. Dia diam saja dan saat kami sudah berada di
parkiran mobil, aku benar-benar terkejut saat melihat wajahnya sepucat
Vampir. “Hinata kau tak apa-apa? Mukamu pucat.”
“Aku
hanya kedinginan saja.” Dia memeluk badannya sendiri dan aku langsung
melepaskan jaket yang aku pakai dan menyuruhnya untuk memakai jaketku.
“Teri…ma… kas…ih.” Kata Hinata terbata-bata. Dia menangis dan itu
membuatku mematung. Ada apa dengannya? Melihat tangisannya, dadaku
terasa sesak dan aku langsung menariknya ke dalam pelukanku. Sedikit
berharap dia bisa lebih tenang.
“Hinata…”
Sebuah suara mengagetkanku dan Hinata langsung melepas diri pelukanku.
Aku menatap laki-laki yang bisa dibilang mengganggu kami dengan
pandangan tidak suka, di sampingnya berdiri seorang perempuan manis
dengan rambut ikal.
“Rehan? Apa yang kau lakukan di
sini?” Tanya Hinata sambil menyapukan jemarinya di matanya, untuk
menghapus jejak-jejak air mata.
“Tentu saja kencan. Kenalkan ini pacarku, namanya Abel. Siapa yang sedang bersamamu? Pacarmu?” Tanyanya ingin tahu.
“Iya, dia pacarku.” Jawab Hinata pelan. Aku menatapnya tak percaya.
“Namanya Andri. Kurasa kami harus segera pulang.”
“Oh, kalau begitu kami pergi dulu.” Kata laki-laki yang bernama Rehan itu sambil meninggalkan kami.
Setelah mereka benar-benar tak terlihat, aku memandang Hinata tajam, “Kenapa kau bilang padanya kalau aku pacarmu?”
Aku bisa melihat ekspresi terluka dari wajah Hinata, dan itu membuatku
menyesal telah menanyakan hal itu padanya. “Kau keberatan?”
“Tidak!” tentu saja tidak. Aku sangat mencintaimu Hinata. Benar-benar
mencintaimu. “Tapi beri aku satu alasan agar aku bisa mengerti apa yang
terjadi. kau benar-benar aneh akhir ini. Dua hari yang lalu kau
mengajakku pergi dan mendiamkanku. Hari ini tiba-tiba saja kau menangis
dan mengaku kalau aku pacarmu. Ini membingungkan!”
“Aku mencintainya.” Kata Hinata datar.
“Siapa?” Sejujurnya aku tak mau tahu, saat dia mengatakan ‘nya’.
“Rehan. Aku mencintainya. Dan aku menangis karena aku, tak sengaja
melihatnya sedang bersama Abel. Aku sama sekali tak menyangka jika
mereka akan menghampiriku, jadi maaf aku sama sekali tak berpikir saat
mengatakan bahwa kau adalah pacarku.”
Aku meremas
rambutku. Benar-benar menyakitkan seolah rongga dadaku kosong tanpa isi.
Hanya ada kehampaan. Dan semenit kemudian gelombang kemarahan melandaku
dan menenggelamkanku ke dasarnya. Aku cemburu dan aku murka.
“Ayo pulang!” Aku menarik tangannya dengan kasar.
“Sakit Andri.” Hinata berusaha melepaskan tangannya dari peganganku.
dan aku mendorongnya agar masuk ke dalam mobil. Aku bisa melihat air
matanya mengalir. Dan aku sama sekali tak merasa kasihan pada orang yang
bahkan tak pernah mempedulikan orang yang mencintainya.
¥¥¥
Aku menatap lapangan basket dengan pandangan muram. Akhir-akhir ini
keadaan semakin memburuk entah dalam artian apa. Aku lelah sekali,
terlalu lelah untuk menghirup napas sekalipun. Aku lelah, karena aku
berlatih sekuat tenaga agar aku tak mengecewakan mereka, tak seperti
yang pernah aku lakukan membuat mereka kacau balau hanya demi sesuatu
yang sia-sia. Aku lelah, menghindar dari Hinata. Aku tak tahu apa
maunya, sejak malam yang tak pernah aku ungkit-ungkit itu dia berusaha
menghubungiku dan mengucapkan kata maaf berkali-kali padaku.
Jujur saja, aku bingung siapa yang salah di sini? Mungkin aku yang
terlalu egois. Tapi aku benar-benar tidak sanggup melihat Hinata. Dia
melukaiku.
“Andri! Perlombaan sudah mau dimulai.” Kata Deri.
Aku mengangguk dan berjalan ke lapangan. Saat itulah aku merasakan ada
yang hilang. Meskipun aku tak tahu apa. Mungkin aku takut kehilangan
kesempatan untuk menang. Baiklah, akan aku buktikan pada mereka bahwa
aku bisa.
Pertandingan tak membutuhkan waktu yang
lama, dan seperti yang aku inginkan kami benar-benar menang.
Menyenangkan rasanya. Deri mengajak kami satu tim ke kantin untuk
makan-makan bersama.
“Aku tak menyangka kita bisa menang. Mengingat Andri tengah kasmaran,” Agus berceloteh sambil menggigit gorengan.
“Aku juga.” Timpal Deri, “Tapi Andri kan orang yang bertanggung jawab.
Jadi percaya saja padanya.” dan mereka semua tertawa.
Paradoks tingkat tinggi. Aku berjalan ke ruang ganti sendirian dan
mengaktifkan ponselku untuk menghubungi Mama. Malam ini aku ingin
menginap di rumah Deri saja. Sepertinya melegakan punya teman untuk
bercerita.
Sebelum aku menelpon Mama, ada satu pesan masuk ke dalam ponselku. Dan ternyata itu dari Mama.
27/04/2011
Pengirim : Mama
Andri, cepat pulang Nak! Hinata dipanggil ke Rahmatulloh tadi jam lima sore.
¥¥¥
Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK.
Aku pernah berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak ingin ada air mata.
Aku
membungkuk, menempelkan wajahku ke kemudi saat aku melihat orang
berlalu lalang di depan rumah Hinata. Aku berharap saat masuk ke dalam
rumahnya, Hinata akan menepuk bahuku dan tersenyum lembut. Miris! Hatiku
beku dan aku butuh pelepasan. Tanganku membuka dasbor untuk mengambil
sebungkus rokok. Tapi bukan sebungkus rokok yang aku gapai, melainkan
seikat Dandelion yang telah kering. Hinata?
Dandelion
itu merosot jatuh dari tanganku dan aku lansung berlari masuk ke dalam
rumah Hinata. Aku ingin mengajaknya ke hamparan Dandelion lagi. Aku tak
peduli jika dia tak mencintaiku, aku akan tetap mencintainya sampai
kapanpun.
Aku terpaku saat tiba di ruang tengah milik
keluarga Hinata. Di sana ada Mama, yang tengah memeluk Mama Hinata. Dan
tepat di tengah ruangan, Hinata tertidur pulas.
“Kenapa dia tak merasa terganggu dengan semua kebisingan ini? Apakah
mimpinya terlalu indah sehingga dia tak mau bangun lagi?” Tanyaku pada
diriku sendiri dan semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
¥
Rasanya
menyakitkan dan memuakkan! Kanker otak sialan. Aku bahkan tak sanggup
melukiskannya dengan kata-kata. Aku juga tak tahu mengapa sekarang aku
ingin segala kata-kata mengurai ceritaku, sebelum aku benar-benar pergi.
Aku ingin punya satu cerita yang membuktikan bahwa aku pernah hidup.
Tapi aku benar-benar pusing untuk memilih cerita mana yang ingin aku
tuliskan mengingat hidupku sama sekali tak menarik untuk di baca.
Nyaris! Semuanya monoton. Yang kutahu hanya tangis. Aku bahkan tak
mengenal kata tawa. Aku merasa kata itu, hanya digunakan untuk
orang-orang yang memiliki kehidupan bukan untuk orang sepertiku. Orang
yang tiap harinya melihat wajah duka seolah-olah mereka menungguku untuk
mati. Atau prihatin atas kematian yang akan mendatangiku. Ohh …
Entahlah! Aku tak tahu.
Tapi … Aku tetap
ingin bercerita. Ini tentang Andri. Karena sejak kedatangannya semuanya
berubah. Dia tampan dan memukaukan. Melihatnya membuatku berpikir aku
orang yang sangat beruntung karena sebelum melihat malaikat pencabut
nyawa, Tuhan memberikanku kesempatan untuk melihat bagaimana rupa
malaikat sesungguhnya.
Kurasa aku harus
memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya untuk diriku sendiri. Aku
mencintainya, dan sekarang dia membenciku. Drama yang sempurna bukan?
Saat aku mengatakan bahwa dia pacarku, tak ada maksud apa-apa. Aku
memang berharap seperti itu. Tapi bukan harapan itu yang kudapat
melainkan penolakan. Aku berbohong padanya dan aku berbohong pada diriku
sendiri. Andai aku punya kesempatan aku ingin mengatakan yang
sejujurnya. Dan waktuku telah habis. Aku hanya bisa bertahan selama
tujuh hari kata mereka, malaikat berbaju putih yang tak bisa menolongku
untuk tetap hidup. Aku mengahabiskan tiga hari untuk bersamanya, dan
tiga hari untuk mengenangnya. Karena ini akhir dari segala ceritaku yang
ingin aku ceritakan.
Aku meremas kertas
yang tadi diberikan oleh Mamanya Hinata. Rasanya sama saja, aku juga
merasa hatiku teremas. Sakit sekali! Kemudian aku terduduk dan bersandar
di dinding, mau tak mau aku mengakui kalau aku menangis. Ternyata aku
memang tak tahu segala tentangnya, bahkan penyakit yang selalu
menggerogoti badannya pun aku tak tahu. Aku ingin pergi ke hamparan
Dandelion itu lagi, dan berharap di sana ia sudah menungguku.
Sinopsis
Aku menunggumu di hamparan Dandelion. Katanya tiba-tiba di hari Minggu yang cerah di pertengahan Desember yang beku
Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK.
Aku pernah berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak ingin ada air mata.
Ini semua tentang Hinata.
Karena aku tahu, dia pusat dari segala orbitku.
Tapi
sejak tarian Dandelion di hari Minggu yang dia janjikan, itu mengubah
segalanya. Andai saja aku bisa membaca segala tanda-tanda dari tarian
Dandelion yang juga merupakan tarian ekspresinya. Andai aku tahu bahwa
tarian Dandelion yang semakin lama meninggalkanku adalah tujuannya.
Aku
bertanya-tanya apakah kata-kataku ambigu? Terlalu banyak kesalahan
dalam setiap interaksi yang ada. Aku merasa banyak lubang di setiap
latar yang menghadirkan kita berdua. Meskipun aku baru menyadarinya.
Andai saja aku sedikit peka. Pasti kita masih berada di satu cerita yang sama.
Tapi
takdir kita sudah jelas. Cerita itu telah mengalir. Dan Sketsa
kehidupan telah terpampang. Tapi aku tak pernah sanggup untuk berjalan
dan menggapai epilog yang aku sendiri takut untuk menapakinya. Aku
pengecut.
Tarian Dandelion
Karya : Novi Handayani
Ini hidupku tapi bukan ceritaku. Bahkan hidupku nyaris tak ada artinya
jika dibandingkan dengan cerita yang akan aku tuliskan. Ini tentangnya
yang tak pernah bisa aku gapai. Tentangnya yang hanya demi dirinya aku
rela memberikan nafasku, tapi aku tahu semuanya tak semudah yang aku
mau. Karena aku dan dia berbeda.
Namanya Hinata.
Aku bertemu dengannya dua tahun yang lalu, saat aku dan keluargaku
pindah ke Bandung, waktu itu aku kelas dua SMA. Aku tak tahu pasti, tapi
kurasa inilah prolog ceritaku karena bermula dari sinilah alur ceritaku
mengalir begitu saja tanpa pernah aku duga. Layaknya sebuah cerita, dia
memang benar-benar sosok perempuan yang digambarkan dalam semua buku
cerita tentang keindahan. Rambutnya hitam sepinggang terlihat serasi
dengan kulitnya yang putih bersih. Matanya sipit dan setiap dia
tersenyum ada lesung pipi yang tersembul di kedua pipinya. Manis sekali.
Tutur katanya lembut, seperti wanita Jawa meskipun yang kutahu dia sama
sekali tak memiliki keturunan darah Jawa.
“Aku
menunggumu di hamparan Dandelion,” Katanya tiba-tiba di hari Minggu yang
cerah di pertengahan Desember yang beku.
Aku
tersenyum menanggapi permintaannya. Dan Minggu itu, aku pergi ke
hamparan Dandelion yang dia maksud. Saat tiba di sana, aku melihatnya
sedang duduk menungguku. Dia mengenakan dress warna putih bersih dengan
rambut terurai. Aku tak tahu kapan aku akan terbiasa dengan segala
pesonanya. Jadi dengan hati berdebar aku mendatanginya dan duduk di
sampingnya.
“Kau terlambat lima belas menit,” Katanya
dengan suara pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari hamparan
Dandelion yang memukau.
“Maaf,” aku menyesal telah membuatnya menunggu.
“Kumaafkan,” katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku menatap matanya
yang bening dan ritme detakan jantungku bertambah cepat. Aku bisa
melihat ada rona merah di sekitar pipinya dan dia langsung mengalihkan
pandangannya ke depan.
Hening! Aku tak tahu harus
berkata apa untuk mencairkan suasana yang beku ini. Mulutku serasa
terkunci dan aku mengerang tertahan. Hanya dia satu-satunya perempuan
yang membuatku tak berkutik seperti ini. Aku membencinya karena aku tak
bisa menolak pesonanya sehingga terjerat dalam ketidaknormalan ini.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, meniup rambutnya dan beberapa
Dandelion. Aku bisa melihat senyuman yang terukir dari bibirnya, dan itu
membuatku merasa seribu kali lebih baik. Biarlah keheningan ini
menelanku asal aku bisa merasakan romantisme tanpa bahasa yang
menjabarkan semuanya. Hingga matahari kembali ke peraduannya.
“Sudah sore, aku mau pulang. Terimakasih karena telah menemaniku di
sini,” Katanya sambil memetik beberapa tangkai Dandelion sebelum
tersenyum padaku.
Aku membalas senyumnya, “Dengan senang hati.”
Lalu kami pulang, rumahnya tepat berada di depan rumahku. Saat dalam
perjalanan, dia masih tak juga mengatakan apapun. Dan kali ini diamnya
mengusikku. “Kau kenapa?” tanyaku.
Dia menatapku bingung. “Memangnya aku kenapa?”
“Dari tadi kau diam terus.”
Dia tak langsung menjawab dan saat kami telah tiba di depan rumahnya
dia berkata, “Aku merasa nyaman dengan diamku. Itu saja!” dia langsung
keluar dari dalam mobil, “Bagaimana pun juga, aku senang kau menemaniku.
Selamat malam.”
Aku menatap punggungnya yang semakin
lama semakin mengecil dan menghilang saat dia sudah masuk ke dalam
rumah. Aku menarik napas panjang sebelum memarkirkan mobilku dan masuk
ke dalam kamar. Aku melihat lampu kamarnya menyala, dan itu membuatku
terdiam. Aku hanya berdiri terpaku dan berharap semuanya akan baik-baik
saja.
Tapi aku semakin takut, saat keesokan harinya
dia menelponku dan berkata akan menungguku di Taman Kanak-Kanak saat aku
sedang berlatih basket. Aku tak tahu jenis ketakutan apa yang tengah
melandaku. Irasional mungkin, karena jelas-jelas tak ada yang perlu
ditakutkan. Jadi aku putuskan akan menemuinya di Taman Kanak-Kanak.
“Deri, maaf aku tak bisa ikut latihan. Aku harus pergi.” Kataku meminta izin.
“Perempuan mana yang membuatmu meninggalkan latihan kita?” Aku
melihatnya tersenyum sinis dan aku ingin sekali menghajarnya.
“Bukan urusanmu!” Aku mendecih dan meninggalkan lapangan basket sebelum aku benar-benar tergoda untuk memukulnya.
“Tentu saja itu urusanku. Lomba sudah di depan mata dan kau meninggalkan latihan hanya untuk berkencan.”
Aku berhenti sejenak untuk memikirkan kata-katanya. Sebersit perasaan
bersalah muncul dalam hatiku, tapi itu tak mengubah keputusanku. Hinata
sudah menungguku dan akan tetap menemuinya.
Saat aku
tiba di Taman Kanak-kanak, aku melihatnya duduk di atas ayunan. Dia
mengenakan dress warna putih sepanjang lutut dengan rambut di kepang
satu. Aku mengerutkan kening, berapa banyakkah bajunya yang bewarna
putih?
“Hey, apa aku terlambat?” Tanyaku sembari duduk di sampingnya.
Dia memandangku lembut, “Kau sedang latihan?”
Aku bertanya-tanya dari mana dia tahu. Kemudian aku teringat aku masih
mengenakan baju basket. Seharusnya aku berganti pakaian dulu. “Sudah
selesai,” Dustaku.
“Aku minta maaf, kau pasti haus.”
Dia mengeluarkan sebotol air minum dari tasnya dan memberikannya padaku.
Kuterima dengan senang hati dan langsung meneguknya sampai habis.
“Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK,” Katanya sambil
tersenyum lembut dan mengamati segerombolan anak-anak yang tengah
bermain bola.
“Kenapa?” Tanyaku ingin tahu.
“Mereka benar-benar makhluk yang menggemaskan. Pasti menyenangkan
rasanya bila tiap hari dikelilingi dengan wajah tanpa dosa yang tak
pernah memikirkan stratifikasi dalam kehidupan”
Aku
benar-benar tak mengerti apa yang dikatakannya. Tapi tak urung jua aku
mengangguk. Jadi sesorean itu kami menghabiskan waktu dalam diam untuk
mengamati anak-anak itu hingga tak ada lagi anak yang bermain. Dan
setelah melihat mega-mega merah di langit, dia mengajakku pulang.
“Terimakasih untuk hari ini,” Katanya sebelum masuk ke dalam rumah. Aku
bisa melihat lesung pipinya yang selalu aku nantikan saat dia
tersenyum.
“Sama-sama.” Dan dia berbalik meninggalkanku di depan rumahnya.
Aku menutup mataku sambil berusaha mengendurkan sarafku yang tegang.
Aku merasa lelah sekali meskipun aku tak tahu apa penyebabnya. Kali ini
aku tak tahu, akan menantikan apa esok pagi saat aku terbangun.
¥¥¥
“Aku menunggumu di pusat perbelanjaan.” Suara Hinata masih berdengung
di telingaku. Aku semakin tak mengerti apa maunya. Beribu pertanyaan
mampir ke dalam benakku, apakah dia akan seperti hari-hari sebelumnya.
Mengajakku pergi dan mendiamkanku. Aku meremas rambutku frustasi.
“Aku harus pergi,” Kataku sambil mengambil baju ganti dan memakainya.
“Pergi saja!” sahut Deri pedas.
Baiklah, aku tahu kalau aku sekarang sudah benar-benar keterlaluan
karena tidak ikut latihan. Tapi membayangkan Hinata di sana menungguku
sendiri, itu adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami. “Maaf, tapi
aku janji kita akan menang.”
Setelah selesai memakai
baju, aku langsung ke parkiran dan mengambil mobilku untuk menemui
Hinata. Saat aku tiba di sana, seperti biasa dia sudah menungguku. Tapi
kali ini, dia tidak mengenakan dress warna putih melainkan celana
panjang warna biru dan baju warna Ungu. Rambutnya diikat menjadi satu di
sebelah kanan. Sangat kekanak-kanakan. Tapi menurutku dia imut sekali.
“Maaf merepotkanmu,” Hinata langsung tersenyum manis saat aku berjalan ke arahnya.
Aku menggeleng dan mulai mengancamnya, “Tapi aku akan benar-benar
meninggalkanmu jika kau mengajakku hanya untuk menjadi
patungmu.”
Dia merengut, “Tak akan. Kau tenang saja.”
“Baiklah, sekarang kita mau ke mana?” Tanyaku.
Mata Hinata berbinar senang saat mendengar pertanyaanku. Kemudian dia
menarik tanganku keluar dari pusat perbelanjaan. “Aku tahu, kau akan
mengabulkan permintaanku. Aku ingin jalan-jalan.” Aku berhenti jalan,
dan Hinata juga menghentikan jalannya. “Ada apa?”
“Kurasa sebaiknya aku mengambil mobil du…”
“Aku mau jalan, Andri! Bukan naik mobil.” Katanya sambil melepaskan
tanganku. Kemudian dia berjalan duluan di depanku dan aku langsung
menyusulnya.
“Kau marah?”
“Untuk
apa? Aku mau ke jembatan sana. Kau mau ikut tidak?” Aku menggaruk
kepalaku yang tidak gatal dan ikut barjalan di sampingnya. Aku bisa
mendengar Hinata tengah bersenandung kecil. Tampaknya dia sedang
bahagia. Mau tak mau aku ikut tersenyum senang. “Sudah lama sekali aku
tak menghirup udara luar,” Katanya.
“Aku senang sekali mendengarnya. Kalau aku jadi kau aku tak akan pernah
home schooling. Percaya padaku, kau akan menghirup udara luar tiap hari.”
Aku melihatnya menghentikan langkahnya, dan aku juga menghentikan
langkahku. Dia menatapku lama sekali sebelum berjalan menuju ke trotoar
dan duduk di situ. “Aku tak punya pilihan. Dan tak akan pernah punya
pilihan. Karena apa yang aku jalani itu pilihan terbaik.”
“Aku tak mengerti.” Kataku sambil menatap matanya.
Hinata tersenyum ke arahku, dan menunjuk beberapa anak jalanan. “Kau
tahu, mereka tak pernah meminta untuk menjadi seperti mereka. Dan yang
mereka lakukan adalah jalan terbaik meskipun mereka tak suka. Aku pernah
berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak
ingin ada air mata.”
Aku mencoba menyerap segala
kata-katanya dan mengumpulkan ke dalam otakku sehingga aku bisa
menyimpulkan sesuatu. Tapi tak ada kesimpulan apapun yang aku dapatkan,
hanya sebuah pernyataan bahwa aku tak pernah mengenal Hinata. Masih
begitu banyak teka-teki yang ada di setiap sudut ceritanya.
Jadi sore itu, kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang hingga
aku melihat sadar hari sudah petang ,“Ayo pulang,” Ajakku sambil
menggandeng tangannya. Dia diam saja dan saat kami sudah berada di
parkiran mobil, aku benar-benar terkejut saat melihat wajahnya sepucat
Vampir. “Hinata kau tak apa-apa? Mukamu pucat.”
“Aku
hanya kedinginan saja.” Dia memeluk badannya sendiri dan aku langsung
melepaskan jaket yang aku pakai dan menyuruhnya untuk memakai jaketku.
“Teri…ma… kas…ih.” Kata Hinata terbata-bata. Dia menangis dan itu
membuatku mematung. Ada apa dengannya? Melihat tangisannya, dadaku
terasa sesak dan aku langsung menariknya ke dalam pelukanku. Sedikit
berharap dia bisa lebih tenang.
“Hinata…”
Sebuah suara mengagetkanku dan Hinata langsung melepas diri pelukanku.
Aku menatap laki-laki yang bisa dibilang mengganggu kami dengan
pandangan tidak suka, di sampingnya berdiri seorang perempuan manis
dengan rambut ikal.
“Rehan? Apa yang kau lakukan di
sini?” Tanya Hinata sambil menyapukan jemarinya di matanya, untuk
menghapus jejak-jejak air mata.
“Tentu saja kencan. Kenalkan ini pacarku, namanya Abel. Siapa yang sedang bersamamu? Pacarmu?” Tanyanya ingin tahu.
“Iya, dia pacarku.” Jawab Hinata pelan. Aku menatapnya tak percaya.
“Namanya Andri. Kurasa kami harus segera pulang.”
“Oh, kalau begitu kami pergi dulu.” Kata laki-laki yang bernama Rehan itu sambil meninggalkan kami.
Setelah mereka benar-benar tak terlihat, aku memandang Hinata tajam, “Kenapa kau bilang padanya kalau aku pacarmu?”
Aku bisa melihat ekspresi terluka dari wajah Hinata, dan itu membuatku
menyesal telah menanyakan hal itu padanya. “Kau keberatan?”
“Tidak!” tentu saja tidak. Aku sangat mencintaimu Hinata. Benar-benar
mencintaimu. “Tapi beri aku satu alasan agar aku bisa mengerti apa yang
terjadi. kau benar-benar aneh akhir ini. Dua hari yang lalu kau
mengajakku pergi dan mendiamkanku. Hari ini tiba-tiba saja kau menangis
dan mengaku kalau aku pacarmu. Ini membingungkan!”
“Aku mencintainya.” Kata Hinata datar.
“Siapa?” Sejujurnya aku tak mau tahu, saat dia mengatakan ‘nya’.
“Rehan. Aku mencintainya. Dan aku menangis karena aku, tak sengaja
melihatnya sedang bersama Abel. Aku sama sekali tak menyangka jika
mereka akan menghampiriku, jadi maaf aku sama sekali tak berpikir saat
mengatakan bahwa kau adalah pacarku.”
Aku meremas
rambutku. Benar-benar menyakitkan seolah rongga dadaku kosong tanpa isi.
Hanya ada kehampaan. Dan semenit kemudian gelombang kemarahan melandaku
dan menenggelamkanku ke dasarnya. Aku cemburu dan aku murka.
“Ayo pulang!” Aku menarik tangannya dengan kasar.
“Sakit Andri.” Hinata berusaha melepaskan tangannya dari peganganku.
dan aku mendorongnya agar masuk ke dalam mobil. Aku bisa melihat air
matanya mengalir. Dan aku sama sekali tak merasa kasihan pada orang yang
bahkan tak pernah mempedulikan orang yang mencintainya.
¥¥¥
Aku menatap lapangan basket dengan pandangan muram. Akhir-akhir ini
keadaan semakin memburuk entah dalam artian apa. Aku lelah sekali,
terlalu lelah untuk menghirup napas sekalipun. Aku lelah, karena aku
berlatih sekuat tenaga agar aku tak mengecewakan mereka, tak seperti
yang pernah aku lakukan membuat mereka kacau balau hanya demi sesuatu
yang sia-sia. Aku lelah, menghindar dari Hinata. Aku tak tahu apa
maunya, sejak malam yang tak pernah aku ungkit-ungkit itu dia berusaha
menghubungiku dan mengucapkan kata maaf berkali-kali padaku.
Jujur saja, aku bingung siapa yang salah di sini? Mungkin aku yang
terlalu egois. Tapi aku benar-benar tidak sanggup melihat Hinata. Dia
melukaiku.
“Andri! Perlombaan sudah mau dimulai.” Kata Deri.
Aku mengangguk dan berjalan ke lapangan. Saat itulah aku merasakan ada
yang hilang. Meskipun aku tak tahu apa. Mungkin aku takut kehilangan
kesempatan untuk menang. Baiklah, akan aku buktikan pada mereka bahwa
aku bisa.
Pertandingan tak membutuhkan waktu yang
lama, dan seperti yang aku inginkan kami benar-benar menang.
Menyenangkan rasanya. Deri mengajak kami satu tim ke kantin untuk
makan-makan bersama.
“Aku tak menyangka kita bisa menang. Mengingat Andri tengah kasmaran,” Agus berceloteh sambil menggigit gorengan.
“Aku juga.” Timpal Deri, “Tapi Andri kan orang yang bertanggung jawab.
Jadi percaya saja padanya.” dan mereka semua tertawa.
Paradoks tingkat tinggi. Aku berjalan ke ruang ganti sendirian dan
mengaktifkan ponselku untuk menghubungi Mama. Malam ini aku ingin
menginap di rumah Deri saja. Sepertinya melegakan punya teman untuk
bercerita.
Sebelum aku menelpon Mama, ada satu pesan masuk ke dalam ponselku. Dan ternyata itu dari Mama.
27/04/2011
Pengirim : Mama
Andri, cepat pulang Nak! Hinata dipanggil ke Rahmatulloh tadi jam lima sore.
¥¥¥
Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK.
Aku pernah berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak ingin ada air mata.
Aku
membungkuk, menempelkan wajahku ke kemudi saat aku melihat orang
berlalu lalang di depan rumah Hinata. Aku berharap saat masuk ke dalam
rumahnya, Hinata akan menepuk bahuku dan tersenyum lembut. Miris! Hatiku
beku dan aku butuh pelepasan. Tanganku membuka dasbor untuk mengambil
sebungkus rokok. Tapi bukan sebungkus rokok yang aku gapai, melainkan
seikat Dandelion yang telah kering. Hinata?
Dandelion
itu merosot jatuh dari tanganku dan aku lansung berlari masuk ke dalam
rumah Hinata. Aku ingin mengajaknya ke hamparan Dandelion lagi. Aku tak
peduli jika dia tak mencintaiku, aku akan tetap mencintainya sampai
kapanpun.
Aku terpaku saat tiba di ruang tengah milik
keluarga Hinata. Di sana ada Mama, yang tengah memeluk Mama Hinata. Dan
tepat di tengah ruangan, Hinata tertidur pulas.
“Kenapa dia tak merasa terganggu dengan semua kebisingan ini? Apakah
mimpinya terlalu indah sehingga dia tak mau bangun lagi?” Tanyaku pada
diriku sendiri dan semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
¥
Rasanya
menyakitkan dan memuakkan! Kanker otak sialan. Aku bahkan tak sanggup
melukiskannya dengan kata-kata. Aku juga tak tahu mengapa sekarang aku
ingin segala kata-kata mengurai ceritaku, sebelum aku benar-benar pergi.
Aku ingin punya satu cerita yang membuktikan bahwa aku pernah hidup.
Tapi aku benar-benar pusing untuk memilih cerita mana yang ingin aku
tuliskan mengingat hidupku sama sekali tak menarik untuk di baca.
Nyaris! Semuanya monoton. Yang kutahu hanya tangis. Aku bahkan tak
mengenal kata tawa. Aku merasa kata itu, hanya digunakan untuk
orang-orang yang memiliki kehidupan bukan untuk orang sepertiku. Orang
yang tiap harinya melihat wajah duka seolah-olah mereka menungguku untuk
mati. Atau prihatin atas kematian yang akan mendatangiku. Ohh …
Entahlah! Aku tak tahu.
Tapi … Aku tetap
ingin bercerita. Ini tentang Andri. Karena sejak kedatangannya semuanya
berubah. Dia tampan dan memukaukan. Melihatnya membuatku berpikir aku
orang yang sangat beruntung karena sebelum melihat malaikat pencabut
nyawa, Tuhan memberikanku kesempatan untuk melihat bagaimana rupa
malaikat sesungguhnya.
Kurasa aku harus
memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya untuk diriku sendiri. Aku
mencintainya, dan sekarang dia membenciku. Drama yang sempurna bukan?
Saat aku mengatakan bahwa dia pacarku, tak ada maksud apa-apa. Aku
memang berharap seperti itu. Tapi bukan harapan itu yang kudapat
melainkan penolakan. Aku berbohong padanya dan aku berbohong pada diriku
sendiri. Andai aku punya kesempatan aku ingin mengatakan yang
sejujurnya. Dan waktuku telah habis. Aku hanya bisa bertahan selama
tujuh hari kata mereka, malaikat berbaju putih yang tak bisa menolongku
untuk tetap hidup. Aku mengahabiskan tiga hari untuk bersamanya, dan
tiga hari untuk mengenangnya. Karena ini akhir dari segala ceritaku yang
ingin aku ceritakan.
Aku meremas kertas
yang tadi diberikan oleh Mamanya Hinata. Rasanya sama saja, aku juga
merasa hatiku teremas. Sakit sekali! Kemudian aku terduduk dan bersandar
di dinding, mau tak mau aku mengakui kalau aku menangis. Ternyata aku
memang tak tahu segala tentangnya, bahkan penyakit yang selalu
menggerogoti badannya pun aku tak tahu. Aku ingin pergi ke hamparan
Dandelion itu lagi, dan berharap di sana ia sudah menungguku.
Sinopsis
Aku menunggumu di hamparan Dandelion. Katanya tiba-tiba di hari Minggu yang cerah di pertengahan Desember yang beku
Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK.
Aku pernah berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak ingin ada air mata.
Ini semua tentang Hinata.
Karena aku tahu, dia pusat dari segala orbitku.
Tapi
sejak tarian Dandelion di hari Minggu yang dia janjikan, itu mengubah
segalanya. Andai saja aku bisa membaca segala tanda-tanda dari tarian
Dandelion yang juga merupakan tarian ekspresinya. Andai aku tahu bahwa
tarian Dandelion yang semakin lama meninggalkanku adalah tujuannya.
Aku
bertanya-tanya apakah kata-kataku ambigu? Terlalu banyak kesalahan
dalam setiap interaksi yang ada. Aku merasa banyak lubang di setiap
latar yang menghadirkan kita berdua. Meskipun aku baru menyadarinya.
Andai saja aku sedikit peka. Pasti kita masih berada di satu cerita yang sama.
Tapi
takdir kita sudah jelas. Cerita itu telah mengalir. Dan Sketsa
kehidupan telah terpampang. Tapi aku tak pernah sanggup untuk berjalan
dan menggapai epilog yang aku sendiri takut untuk menapakinya. Aku
pengecut.
Tarian Dandelion
Karya : Novi Handayani
Ini hidupku tapi bukan ceritaku. Bahkan hidupku nyaris tak ada artinya
jika dibandingkan dengan cerita yang akan aku tuliskan. Ini tentangnya
yang tak pernah bisa aku gapai. Tentangnya yang hanya demi dirinya aku
rela memberikan nafasku, tapi aku tahu semuanya tak semudah yang aku
mau. Karena aku dan dia berbeda.
Namanya Hinata.
Aku bertemu dengannya dua tahun yang lalu, saat aku dan keluargaku
pindah ke Bandung, waktu itu aku kelas dua SMA. Aku tak tahu pasti, tapi
kurasa inilah prolog ceritaku karena bermula dari sinilah alur ceritaku
mengalir begitu saja tanpa pernah aku duga. Layaknya sebuah cerita, dia
memang benar-benar sosok perempuan yang digambarkan dalam semua buku
cerita tentang keindahan. Rambutnya hitam sepinggang terlihat serasi
dengan kulitnya yang putih bersih. Matanya sipit dan setiap dia
tersenyum ada lesung pipi yang tersembul di kedua pipinya. Manis sekali.
Tutur katanya lembut, seperti wanita Jawa meskipun yang kutahu dia sama
sekali tak memiliki keturunan darah Jawa.
“Aku
menunggumu di hamparan Dandelion,” Katanya tiba-tiba di hari Minggu yang
cerah di pertengahan Desember yang beku.
Aku
tersenyum menanggapi permintaannya. Dan Minggu itu, aku pergi ke
hamparan Dandelion yang dia maksud. Saat tiba di sana, aku melihatnya
sedang duduk menungguku. Dia mengenakan dress warna putih bersih dengan
rambut terurai. Aku tak tahu kapan aku akan terbiasa dengan segala
pesonanya. Jadi dengan hati berdebar aku mendatanginya dan duduk di
sampingnya.
“Kau terlambat lima belas menit,” Katanya
dengan suara pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari hamparan
Dandelion yang memukau.
“Maaf,” aku menyesal telah membuatnya menunggu.
“Kumaafkan,” katanya sambil tersenyum ke arahku. Aku menatap matanya
yang bening dan ritme detakan jantungku bertambah cepat. Aku bisa
melihat ada rona merah di sekitar pipinya dan dia langsung mengalihkan
pandangannya ke depan.
Hening! Aku tak tahu harus
berkata apa untuk mencairkan suasana yang beku ini. Mulutku serasa
terkunci dan aku mengerang tertahan. Hanya dia satu-satunya perempuan
yang membuatku tak berkutik seperti ini. Aku membencinya karena aku tak
bisa menolak pesonanya sehingga terjerat dalam ketidaknormalan ini.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, meniup rambutnya dan beberapa
Dandelion. Aku bisa melihat senyuman yang terukir dari bibirnya, dan itu
membuatku merasa seribu kali lebih baik. Biarlah keheningan ini
menelanku asal aku bisa merasakan romantisme tanpa bahasa yang
menjabarkan semuanya. Hingga matahari kembali ke peraduannya.
“Sudah sore, aku mau pulang. Terimakasih karena telah menemaniku di
sini,” Katanya sambil memetik beberapa tangkai Dandelion sebelum
tersenyum padaku.
Aku membalas senyumnya, “Dengan senang hati.”
Lalu kami pulang, rumahnya tepat berada di depan rumahku. Saat dalam
perjalanan, dia masih tak juga mengatakan apapun. Dan kali ini diamnya
mengusikku. “Kau kenapa?” tanyaku.
Dia menatapku bingung. “Memangnya aku kenapa?”
“Dari tadi kau diam terus.”
Dia tak langsung menjawab dan saat kami telah tiba di depan rumahnya
dia berkata, “Aku merasa nyaman dengan diamku. Itu saja!” dia langsung
keluar dari dalam mobil, “Bagaimana pun juga, aku senang kau menemaniku.
Selamat malam.”
Aku menatap punggungnya yang semakin
lama semakin mengecil dan menghilang saat dia sudah masuk ke dalam
rumah. Aku menarik napas panjang sebelum memarkirkan mobilku dan masuk
ke dalam kamar. Aku melihat lampu kamarnya menyala, dan itu membuatku
terdiam. Aku hanya berdiri terpaku dan berharap semuanya akan baik-baik
saja.
Tapi aku semakin takut, saat keesokan harinya
dia menelponku dan berkata akan menungguku di Taman Kanak-Kanak saat aku
sedang berlatih basket. Aku tak tahu jenis ketakutan apa yang tengah
melandaku. Irasional mungkin, karena jelas-jelas tak ada yang perlu
ditakutkan. Jadi aku putuskan akan menemuinya di Taman Kanak-Kanak.
“Deri, maaf aku tak bisa ikut latihan. Aku harus pergi.” Kataku meminta izin.
“Perempuan mana yang membuatmu meninggalkan latihan kita?” Aku
melihatnya tersenyum sinis dan aku ingin sekali menghajarnya.
“Bukan urusanmu!” Aku mendecih dan meninggalkan lapangan basket sebelum aku benar-benar tergoda untuk memukulnya.
“Tentu saja itu urusanku. Lomba sudah di depan mata dan kau meninggalkan latihan hanya untuk berkencan.”
Aku berhenti sejenak untuk memikirkan kata-katanya. Sebersit perasaan
bersalah muncul dalam hatiku, tapi itu tak mengubah keputusanku. Hinata
sudah menungguku dan akan tetap menemuinya.
Saat aku
tiba di Taman Kanak-kanak, aku melihatnya duduk di atas ayunan. Dia
mengenakan dress warna putih sepanjang lutut dengan rambut di kepang
satu. Aku mengerutkan kening, berapa banyakkah bajunya yang bewarna
putih?
“Hey, apa aku terlambat?” Tanyaku sembari duduk di sampingnya.
Dia memandangku lembut, “Kau sedang latihan?”
Aku bertanya-tanya dari mana dia tahu. Kemudian aku teringat aku masih
mengenakan baju basket. Seharusnya aku berganti pakaian dulu. “Sudah
selesai,” Dustaku.
“Aku minta maaf, kau pasti haus.”
Dia mengeluarkan sebotol air minum dari tasnya dan memberikannya padaku.
Kuterima dengan senang hati dan langsung meneguknya sampai habis.
“Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK,” Katanya sambil
tersenyum lembut dan mengamati segerombolan anak-anak yang tengah
bermain bola.
“Kenapa?” Tanyaku ingin tahu.
“Mereka benar-benar makhluk yang menggemaskan. Pasti menyenangkan
rasanya bila tiap hari dikelilingi dengan wajah tanpa dosa yang tak
pernah memikirkan stratifikasi dalam kehidupan”
Aku
benar-benar tak mengerti apa yang dikatakannya. Tapi tak urung jua aku
mengangguk. Jadi sesorean itu kami menghabiskan waktu dalam diam untuk
mengamati anak-anak itu hingga tak ada lagi anak yang bermain. Dan
setelah melihat mega-mega merah di langit, dia mengajakku pulang.
“Terimakasih untuk hari ini,” Katanya sebelum masuk ke dalam rumah. Aku
bisa melihat lesung pipinya yang selalu aku nantikan saat dia
tersenyum.
“Sama-sama.” Dan dia berbalik meninggalkanku di depan rumahnya.
Aku menutup mataku sambil berusaha mengendurkan sarafku yang tegang.
Aku merasa lelah sekali meskipun aku tak tahu apa penyebabnya. Kali ini
aku tak tahu, akan menantikan apa esok pagi saat aku terbangun.
¥¥¥
“Aku menunggumu di pusat perbelanjaan.” Suara Hinata masih berdengung
di telingaku. Aku semakin tak mengerti apa maunya. Beribu pertanyaan
mampir ke dalam benakku, apakah dia akan seperti hari-hari sebelumnya.
Mengajakku pergi dan mendiamkanku. Aku meremas rambutku frustasi.
“Aku harus pergi,” Kataku sambil mengambil baju ganti dan memakainya.
“Pergi saja!” sahut Deri pedas.
Baiklah, aku tahu kalau aku sekarang sudah benar-benar keterlaluan
karena tidak ikut latihan. Tapi membayangkan Hinata di sana menungguku
sendiri, itu adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami. “Maaf, tapi
aku janji kita akan menang.”
Setelah selesai memakai
baju, aku langsung ke parkiran dan mengambil mobilku untuk menemui
Hinata. Saat aku tiba di sana, seperti biasa dia sudah menungguku. Tapi
kali ini, dia tidak mengenakan dress warna putih melainkan celana
panjang warna biru dan baju warna Ungu. Rambutnya diikat menjadi satu di
sebelah kanan. Sangat kekanak-kanakan. Tapi menurutku dia imut sekali.
“Maaf merepotkanmu,” Hinata langsung tersenyum manis saat aku berjalan ke arahnya.
Aku menggeleng dan mulai mengancamnya, “Tapi aku akan benar-benar
meninggalkanmu jika kau mengajakku hanya untuk menjadi
patungmu.”
Dia merengut, “Tak akan. Kau tenang saja.”
“Baiklah, sekarang kita mau ke mana?” Tanyaku.
Mata Hinata berbinar senang saat mendengar pertanyaanku. Kemudian dia
menarik tanganku keluar dari pusat perbelanjaan. “Aku tahu, kau akan
mengabulkan permintaanku. Aku ingin jalan-jalan.” Aku berhenti jalan,
dan Hinata juga menghentikan jalannya. “Ada apa?”
“Kurasa sebaiknya aku mengambil mobil du…”
“Aku mau jalan, Andri! Bukan naik mobil.” Katanya sambil melepaskan
tanganku. Kemudian dia berjalan duluan di depanku dan aku langsung
menyusulnya.
“Kau marah?”
“Untuk
apa? Aku mau ke jembatan sana. Kau mau ikut tidak?” Aku menggaruk
kepalaku yang tidak gatal dan ikut barjalan di sampingnya. Aku bisa
mendengar Hinata tengah bersenandung kecil. Tampaknya dia sedang
bahagia. Mau tak mau aku ikut tersenyum senang. “Sudah lama sekali aku
tak menghirup udara luar,” Katanya.
“Aku senang sekali mendengarnya. Kalau aku jadi kau aku tak akan pernah
home schooling. Percaya padaku, kau akan menghirup udara luar tiap hari.”
Aku melihatnya menghentikan langkahnya, dan aku juga menghentikan
langkahku. Dia menatapku lama sekali sebelum berjalan menuju ke trotoar
dan duduk di situ. “Aku tak punya pilihan. Dan tak akan pernah punya
pilihan. Karena apa yang aku jalani itu pilihan terbaik.”
“Aku tak mengerti.” Kataku sambil menatap matanya.
Hinata tersenyum ke arahku, dan menunjuk beberapa anak jalanan. “Kau
tahu, mereka tak pernah meminta untuk menjadi seperti mereka. Dan yang
mereka lakukan adalah jalan terbaik meskipun mereka tak suka. Aku pernah
berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak
ingin ada air mata.”
Aku mencoba menyerap segala
kata-katanya dan mengumpulkan ke dalam otakku sehingga aku bisa
menyimpulkan sesuatu. Tapi tak ada kesimpulan apapun yang aku dapatkan,
hanya sebuah pernyataan bahwa aku tak pernah mengenal Hinata. Masih
begitu banyak teka-teki yang ada di setiap sudut ceritanya.
Jadi sore itu, kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang hingga
aku melihat sadar hari sudah petang ,“Ayo pulang,” Ajakku sambil
menggandeng tangannya. Dia diam saja dan saat kami sudah berada di
parkiran mobil, aku benar-benar terkejut saat melihat wajahnya sepucat
Vampir. “Hinata kau tak apa-apa? Mukamu pucat.”
“Aku
hanya kedinginan saja.” Dia memeluk badannya sendiri dan aku langsung
melepaskan jaket yang aku pakai dan menyuruhnya untuk memakai jaketku.
“Teri…ma… kas…ih.” Kata Hinata terbata-bata. Dia menangis dan itu
membuatku mematung. Ada apa dengannya? Melihat tangisannya, dadaku
terasa sesak dan aku langsung menariknya ke dalam pelukanku. Sedikit
berharap dia bisa lebih tenang.
“Hinata…”
Sebuah suara mengagetkanku dan Hinata langsung melepas diri pelukanku.
Aku menatap laki-laki yang bisa dibilang mengganggu kami dengan
pandangan tidak suka, di sampingnya berdiri seorang perempuan manis
dengan rambut ikal.
“Rehan? Apa yang kau lakukan di
sini?” Tanya Hinata sambil menyapukan jemarinya di matanya, untuk
menghapus jejak-jejak air mata.
“Tentu saja kencan. Kenalkan ini pacarku, namanya Abel. Siapa yang sedang bersamamu? Pacarmu?” Tanyanya ingin tahu.
“Iya, dia pacarku.” Jawab Hinata pelan. Aku menatapnya tak percaya.
“Namanya Andri. Kurasa kami harus segera pulang.”
“Oh, kalau begitu kami pergi dulu.” Kata laki-laki yang bernama Rehan itu sambil meninggalkan kami.
Setelah mereka benar-benar tak terlihat, aku memandang Hinata tajam, “Kenapa kau bilang padanya kalau aku pacarmu?”
Aku bisa melihat ekspresi terluka dari wajah Hinata, dan itu membuatku
menyesal telah menanyakan hal itu padanya. “Kau keberatan?”
“Tidak!” tentu saja tidak. Aku sangat mencintaimu Hinata. Benar-benar
mencintaimu. “Tapi beri aku satu alasan agar aku bisa mengerti apa yang
terjadi. kau benar-benar aneh akhir ini. Dua hari yang lalu kau
mengajakku pergi dan mendiamkanku. Hari ini tiba-tiba saja kau menangis
dan mengaku kalau aku pacarmu. Ini membingungkan!”
“Aku mencintainya.” Kata Hinata datar.
“Siapa?” Sejujurnya aku tak mau tahu, saat dia mengatakan ‘nya’.
“Rehan. Aku mencintainya. Dan aku menangis karena aku, tak sengaja
melihatnya sedang bersama Abel. Aku sama sekali tak menyangka jika
mereka akan menghampiriku, jadi maaf aku sama sekali tak berpikir saat
mengatakan bahwa kau adalah pacarku.”
Aku meremas
rambutku. Benar-benar menyakitkan seolah rongga dadaku kosong tanpa isi.
Hanya ada kehampaan. Dan semenit kemudian gelombang kemarahan melandaku
dan menenggelamkanku ke dasarnya. Aku cemburu dan aku murka.
“Ayo pulang!” Aku menarik tangannya dengan kasar.
“Sakit Andri.” Hinata berusaha melepaskan tangannya dari peganganku.
dan aku mendorongnya agar masuk ke dalam mobil. Aku bisa melihat air
matanya mengalir. Dan aku sama sekali tak merasa kasihan pada orang yang
bahkan tak pernah mempedulikan orang yang mencintainya.
¥¥¥
Aku menatap lapangan basket dengan pandangan muram. Akhir-akhir ini
keadaan semakin memburuk entah dalam artian apa. Aku lelah sekali,
terlalu lelah untuk menghirup napas sekalipun. Aku lelah, karena aku
berlatih sekuat tenaga agar aku tak mengecewakan mereka, tak seperti
yang pernah aku lakukan membuat mereka kacau balau hanya demi sesuatu
yang sia-sia. Aku lelah, menghindar dari Hinata. Aku tak tahu apa
maunya, sejak malam yang tak pernah aku ungkit-ungkit itu dia berusaha
menghubungiku dan mengucapkan kata maaf berkali-kali padaku.
Jujur saja, aku bingung siapa yang salah di sini? Mungkin aku yang
terlalu egois. Tapi aku benar-benar tidak sanggup melihat Hinata. Dia
melukaiku.
“Andri! Perlombaan sudah mau dimulai.” Kata Deri.
Aku mengangguk dan berjalan ke lapangan. Saat itulah aku merasakan ada
yang hilang. Meskipun aku tak tahu apa. Mungkin aku takut kehilangan
kesempatan untuk menang. Baiklah, akan aku buktikan pada mereka bahwa
aku bisa.
Pertandingan tak membutuhkan waktu yang
lama, dan seperti yang aku inginkan kami benar-benar menang.
Menyenangkan rasanya. Deri mengajak kami satu tim ke kantin untuk
makan-makan bersama.
“Aku tak menyangka kita bisa menang. Mengingat Andri tengah kasmaran,” Agus berceloteh sambil menggigit gorengan.
“Aku juga.” Timpal Deri, “Tapi Andri kan orang yang bertanggung jawab.
Jadi percaya saja padanya.” dan mereka semua tertawa.
Paradoks tingkat tinggi. Aku berjalan ke ruang ganti sendirian dan
mengaktifkan ponselku untuk menghubungi Mama. Malam ini aku ingin
menginap di rumah Deri saja. Sepertinya melegakan punya teman untuk
bercerita.
Sebelum aku menelpon Mama, ada satu pesan masuk ke dalam ponselku. Dan ternyata itu dari Mama.
27/04/2011
Pengirim : Mama
Andri, cepat pulang Nak! Hinata dipanggil ke Rahmatulloh tadi jam lima sore.
¥¥¥
Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK.
Aku pernah berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak ingin ada air mata.
Aku
membungkuk, menempelkan wajahku ke kemudi saat aku melihat orang
berlalu lalang di depan rumah Hinata. Aku berharap saat masuk ke dalam
rumahnya, Hinata akan menepuk bahuku dan tersenyum lembut. Miris! Hatiku
beku dan aku butuh pelepasan. Tanganku membuka dasbor untuk mengambil
sebungkus rokok. Tapi bukan sebungkus rokok yang aku gapai, melainkan
seikat Dandelion yang telah kering. Hinata?
Dandelion
itu merosot jatuh dari tanganku dan aku lansung berlari masuk ke dalam
rumah Hinata. Aku ingin mengajaknya ke hamparan Dandelion lagi. Aku tak
peduli jika dia tak mencintaiku, aku akan tetap mencintainya sampai
kapanpun.
Aku terpaku saat tiba di ruang tengah milik
keluarga Hinata. Di sana ada Mama, yang tengah memeluk Mama Hinata. Dan
tepat di tengah ruangan, Hinata tertidur pulas.
“Kenapa dia tak merasa terganggu dengan semua kebisingan ini? Apakah
mimpinya terlalu indah sehingga dia tak mau bangun lagi?” Tanyaku pada
diriku sendiri dan semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
¥
Rasanya
menyakitkan dan memuakkan! Kanker otak sialan. Aku bahkan tak sanggup
melukiskannya dengan kata-kata. Aku juga tak tahu mengapa sekarang aku
ingin segala kata-kata mengurai ceritaku, sebelum aku benar-benar pergi.
Aku ingin punya satu cerita yang membuktikan bahwa aku pernah hidup.
Tapi aku benar-benar pusing untuk memilih cerita mana yang ingin aku
tuliskan mengingat hidupku sama sekali tak menarik untuk di baca.
Nyaris! Semuanya monoton. Yang kutahu hanya tangis. Aku bahkan tak
mengenal kata tawa. Aku merasa kata itu, hanya digunakan untuk
orang-orang yang memiliki kehidupan bukan untuk orang sepertiku. Orang
yang tiap harinya melihat wajah duka seolah-olah mereka menungguku untuk
mati. Atau prihatin atas kematian yang akan mendatangiku. Ohh …
Entahlah! Aku tak tahu.
Tapi … Aku tetap
ingin bercerita. Ini tentang Andri. Karena sejak kedatangannya semuanya
berubah. Dia tampan dan memukaukan. Melihatnya membuatku berpikir aku
orang yang sangat beruntung karena sebelum melihat malaikat pencabut
nyawa, Tuhan memberikanku kesempatan untuk melihat bagaimana rupa
malaikat sesungguhnya.
Kurasa aku harus
memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya untuk diriku sendiri. Aku
mencintainya, dan sekarang dia membenciku. Drama yang sempurna bukan?
Saat aku mengatakan bahwa dia pacarku, tak ada maksud apa-apa. Aku
memang berharap seperti itu. Tapi bukan harapan itu yang kudapat
melainkan penolakan. Aku berbohong padanya dan aku berbohong pada diriku
sendiri. Andai aku punya kesempatan aku ingin mengatakan yang
sejujurnya. Dan waktuku telah habis. Aku hanya bisa bertahan selama
tujuh hari kata mereka, malaikat berbaju putih yang tak bisa menolongku
untuk tetap hidup. Aku mengahabiskan tiga hari untuk bersamanya, dan
tiga hari untuk mengenangnya. Karena ini akhir dari segala ceritaku yang
ingin aku ceritakan.
Aku meremas kertas
yang tadi diberikan oleh Mamanya Hinata. Rasanya sama saja, aku juga
merasa hatiku teremas. Sakit sekali! Kemudian aku terduduk dan bersandar
di dinding, mau tak mau aku mengakui kalau aku menangis. Ternyata aku
memang tak tahu segala tentangnya, bahkan penyakit yang selalu
menggerogoti badannya pun aku tak tahu. Aku ingin pergi ke hamparan
Dandelion itu lagi, dan berharap di sana ia sudah menungguku.
Sinopsis
Aku menunggumu di hamparan Dandelion. Katanya tiba-tiba di hari Minggu yang cerah di pertengahan Desember yang beku
Andai aku punya kehidupan, aku ingin menjadi guru TK.
Aku pernah berandai-andai jika aku punya keajaiban untuk merubah dunia, aku tak ingin ada air mata.
Ini semua tentang Hinata.
Karena aku tahu, dia pusat dari segala orbitku.
Tapi
sejak tarian Dandelion di hari Minggu yang dia janjikan, itu mengubah
segalanya. Andai saja aku bisa membaca segala tanda-tanda dari tarian
Dandelion yang juga merupakan tarian ekspresinya. Andai aku tahu bahwa
tarian Dandelion yang semakin lama meninggalkanku adalah tujuannya.
Aku
bertanya-tanya apakah kata-kataku ambigu? Terlalu banyak kesalahan
dalam setiap interaksi yang ada. Aku merasa banyak lubang di setiap
latar yang menghadirkan kita berdua. Meskipun aku baru menyadarinya.
Andai saja aku sedikit peka. Pasti kita masih berada di satu cerita yang sama.
Tapi
takdir kita sudah jelas. Cerita itu telah mengalir. Dan Sketsa
kehidupan telah terpampang. Tapi aku tak pernah sanggup untuk berjalan
dan menggapai epilog yang aku sendiri takut untuk menapakinya. Aku
pengecut.