Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juni 2013

Essay Budaya

TRADISI TAHUNAN MANDI BONGEN
(KAJIAN KRITIS TERHADAP ANCAMAN PERSATUAN DAN KESATUAN DI DUNIA)
Compiled By: Oktovia Rezki Nurhanafiah



“Hamparan pasir yang biasa disebut warga Sekayu dengan “bongen” ini dimanfaatkan warga sekitar untuk mandi. Warga Sekayu terutama muda-mudi justru memanfaatkannya untuk rekreasi dan bermain air bersama keluarganya. Tampak juga para wisatawan dan pedagang yang berdatangan untuk menyaksikan tradisi tahunan ini.” [1]
            Fenomena diatas sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan saat air Sungai Musi mulai dangkal. Masyarakat berbondong-bondong pergi ke Sungai Musi untuk merayakan tradisi tahunan ini. Tradisi yang hanya bisa dijumpai satu kali dalam satu tahun ini memang berbeda dengan kebanyakan tradisi yang ada. Mandi bongen berarti mandi dengan pasir, kedua kata tersebut berasal dari bahasa Sekayu, yaitu Mani atau Mandi yang berarti Mandi, sedangkan Bongen artinya Pasir. Maka kebudayaan Mandi bongen adalah kebudayaan mandi dengan pasir masyarakat pesisir Sungai Musi Kota Sekayu di waktu Sungai Musi dangkal.
            Indonesia sebagai negara yang multikultural memiliki banyak sekali kebudayaan yang tidak bisa dihitung dengan jari. Sumatera Selatan khususnya memiliki lebih dari 100 kebudayaan di setiap daerahnya. Musi Banyuasin sebagai salah satu kabupaten di Sumatera Selatan memiliki berbagai macam kebudayaan yang sangat unik untuk dikaji. Budaya Mandi bongen salah satunya, tradisi ini banyak menimbulkan opini-opini berkaitan dengan tradisi mitos, alam, serta sejarahnya yang sangat kompleks sekali. Mandi bongen dikalangan masyarakat Sekayu, Musi Banyuasin tidak hanya sekedar menjadi tradisi saja tetapi banyak sekali nilai-nilai budaya yang bisa diaplikasikan kedalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
            Berangkat dari hal tersebut, apakah yang membuat tradisi ini berbeda dengan tradisi lainnya yang ada di dunia? Seberapa besar pengaruh tradisi mandi bongen dalam menciptakan rasa persatuan dan kesatuan diantara masyrakat?
         Saat musim kemarau tiba adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin. Keadaan sungai musi yang dangkal bahkan dipertengahan sungaipun dapat dijajaki oleh kaki, keadaan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mandi dan rekreasi di Sungai Musi. Keadaan tersebut tidak disia-siakan masyarakat untuk berekreasi setiap tahun dengan mandi di sungai musi yang penuh dengan pasir atau bongen, banyak kalangan yang melakukan mandi bongen mulai dari anak-anak, orang tua, remaja, bahkan sesekali ada wisatawan yang berkesempatan untuk ikut merasakan mandi bongen ini. Kebudayaan mandi bongen ini juga tidak hanya dilakukan masyarakat golongan tertentu saja, akan tetapi semua lapisan atau golongan masyarakat berpartisipasi untuk ikut memeriahkan tradisi mandi bongen tersebut.
            Anak-anak bermain pasir dipinggiran sungai, para remaja bermain sepak bola dan ada juga yang bermain bola voli, para orang tua juga terlihat sangat senang \ menyebrangi sungai musi sampai ke seberang, karena memang kondisi Sungai Musi yang sangat dangkal pada saat musim kemarau ini membuat masyarakat bisa menjangkau sungai sampai ke seberang. Selain itu, pada saat bongen luas, banyak masyarakat yang mandi di atas pasir karena airnya terasa lebih segar. Bahkan, bongen ini akan dipenuhi masyarakat berbagai usia dari pagi hingga sore hari.[2]
            Tidak hanya aktivitas mandi diatas pasirnya saja yang membuat tradisi ini berbeda dengan tradisi lainnya. Mitos masyarakat juga berkembang seiring dengan berjalannya tradisi ini setiap tahunnya. Sehingga sering kali banyak persepsi mengenai mandi bongen ini, ada yang mengatakan bahwa jika orang jauh atau bukan orang daerah tersebut maka harus hati-hati karena bisa saja orang asing tersebut tenggelam, atau bahkan digigit buaya. Selain itu juga masyarakat masih mempercayai jika ada korban yang tenggelam ke dasar sungai disebabkan oleh adanya inung ruguk, atau sejenis makhluk halus yang diyakini masyarakat penghuni sungai musi. Fenome masyarakat yang tertarik kedalam permukaan pasir sungai juga diyakini oleh masyarakat sebagai korban dari antu ayo (Hantu Sungai Musi).[3]
          Adanya hal tersebut menyebabkan masyarakat waspada dalam berekreasi dan berusaha menghormati penunggu Sungai Musi. Sampai sekarangpun masyrakat masih melakukan tradisi mandi bongen ini sebagai tradisi tahunan masyarakat kabupaten Musi Banyuasin walaupun mereka tetap meyakini mitos-mitos tersebut.
            Uniknya kegiatan yang ada dalam tradisi ini dan juga kentalnya kepercayaan masyarakat terhadap mitos hantu penuggu Sungai Musi yang ada disetiap tradisi ini dilakukan tidak membuat tradisi ini mati begitu saja. Kentalnya nilai persaudaraan diantara masyarakat Sekayu, Musi Banyuasin membuat tradisi ini semakin hidup sepanjang tahunnya. Menurut kepercayaan masyarakat Sekayu tradisi ini akan terasa lebih meriah jika dilakukan bersama-sama keluarga terdekat dan juga masyarakat sekitar lainnya. Tidak ada perasaan kesal yang menyelimuti wajah masyarakat selama tradisi ini berlangsung, hanya ada keceriaan dan kentalnya nuansa persahabatan diantara masyarakat Sekayu. Selain itu masyarakat juga dituntut untuk lebih sportif saat bermain sepak bola dan bola voli yang merupakan bagian dari acara tradisi tahunan mandi bongen ini.
            Setiap kegiatan yang dilakukan dalam tradisi ini memang terkesan biasa saja namun nilai persatuan dan kesatuan diantara para masyarakat inilah yang tidak bisa dibeli dengan apapun, tradisi mandi bongen ini merupakan salah satu cerminan budaya masyarakat Musi Banyuasian yang berusaha untuk mempersatukan seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya persatuan diantara masyarakat maka setiap lapisan masyarakat akan berusaha untuk menjaga tali persabahatan yang sudah terjalin selama ini. Budaya mandi bongen ini hendaknya menjadi cerminan bagi dunia internasional dalam menanggapi berbagai konflik saudara yang ada sekarang. Masyarakat Musi Banyuasin melalui tradisi mandi bongen ini  berusaha meunjukkan kepada kita, bagaimana sebuah persahabatan, persatuan dan kesatuan itu tetap ada walaupun dari kalangan yang berbeda. Bagaimana kita sebagai warga dunia? Apakah sudah mampu menciptakan persatuan dan kesatuan dalam menghadapi konflik saudara yang ada selama ini?





[1] Peri Andrian, 2012, Studi kasus kebudayaan mandi bongen (Pasir) masyarakat pesisir Sungai Musi Kabupaten Musi Banyuasin sebagai cerminan budaya masyarakat, Sekayu, Sumatera Selatan.
[2]Syiera Syailendra, 2012, Kemarau Warga Mandi “Bongen” di Sungai Musi, http://daerah.sindonews.com/read/2012/08/26/30/667501/ kemarau-warga-mandi-bongen-di-sungai-musi, diakses 14 Juni 2013.
[3]  Peri Andrian, 2012, Studi kasus kebudayaan mandi bongen (Pasir) masyarakat pesisir Sungai Musi Kabupaten Musi Banyuasin sebagai cerminan budaya masyarakat, Sekayu, Sumatera Selatan.

Kamis, 13 September 2012

Kesenian Tradisional dari Sekayu (Tutur)



ASAL MULA TERBENTUKNYA DANAU ULAK LIA

Konon hiduplah seorang gadis bernama Malia, Malia terkenal sangat cantik jelita, kecantikannya tersebut menuntut pemuda di desa tersebut menaruh hati padanya. Lalu ada seorang pemuda yang sangat ingin mempersunting Malia, pemuda itu bernama Mat Jitu. Namun Malia tidak ingin menikah dengan Mat Jitu karena ia sudah punya pacar bernama Manap. Merasa tidak terima karena Lia menolak cintanya, akhirnya Mat Jitu pergi menemui dukun sakti dengan niat untuk mencelakai Malia. Dukun itu lalu memberikan jampi-jampi untuk Malia sehingga hasilnya Malia terkena penyakit kulit di sekujur tubuhnya dan di tambah juga bau badan nya yang sangat busuk. Bau busuk itu  sangat menyengat. Warga di desa Soak Baru merasa resah terhadap merasa resah dengan bau busuk yang sangat menyengat dari Malia  dan penduduk takut penyakit tersebut dapat menular ke warga lain nya.

Akhirnya warga memutuskan untuk mengusir Malia dari kampung mereka, jika Malia tidak pergi dari kampung itu maka keluarga Malia akan celaka. Dengan berta hati akhirnya Ayah dan Ibu Malia mengantarkan malia ke tengah hutan di dekat danau. Malia hanya pasrah menerima keputusan tersebut karena ia takut keluarganya akan celaka. Malia sangat sabar dengan keadaan nya hidup di tengah hutan. Namun lama kelamaan ia mulai jenuh dan mengeluh. Suatu hari ia berteriak di tepi danau. Ia meminta kematian kepada danau tersebut karena tidak tahan lagi dengan keadaanya. Akhirnya dari danau tersebut keluarlah  buaya yang sangat besar berwarna keemasan dari dalam danau. Buaya tersebut merupakan jelmaan penunggu danau itu. Ia langsung memakan Malia dan membawanya ke dasar danau. Kejadian tersebut disaksikan oleh seorang warga dan ia pun langsung melaporkan kejadian tersebut kepada keluarga Malia. Ibu Malia sangat sedih mendengar kejadian tersebut, begitu juga dengan warga setempat sangat menyesal dengan keputusan mengusir Malia dari Kampung Soak Baru. Ayah Malia akhirnya menamai tempat tersebut dengan nama Danau Ulak Lia karena jasad Malia ditemukan di dekat Danau tersebut. 

ESSAY KIKI



Kajian Internasional : Solusi Penyelesaian Sengketa Laut Cina Selatan[1]
Oleh : Oktovia Rezki N.H [2]
A.     Pendahuluan
South China Sea is one source conflict in the world. Some state in around the sea try to claim the sea. Not only connected water area of states but also connected more of wide interest include economic interest. South China Sea is predicated has earth wealth especially as oil and earth gas sources. Some state which they claim existention of the sea are China, Taiwan, Vietnam, Philipina and other state especially states in ASEAN.[3]
Beberapa media akhir-akhir ini banyak yang memberitakan konflik di antara China dan beberapa negara di kawasan ASEAN. Hari demi hari konflik ini kian memanas, pasalnya negeri tirai bambu itu menjadi negara yang paling bernafsu memiliki kekuasaan atas wilayah Laut China Selatan. Kekayaan alam yang dikandung oleh Laut China Selatan, menjadi penyebab utama perebutan wilayah ini. Demikian diberitakan BBC, Selasa (21/8/2012).
Over the past few years we have observed that China’s activities in South China Sea region have increased, both in frequency and intansity. It is safe to assume that China is aware that incidents have garnered worldwide attention and are therefore reckless unless implemented in tandem with political manouvering.
Wilayah yang diperebutkan dalam konflik Laut China Selatan bukan hanya wilayah lautnya. Dua pulau, yakni Pulau Spratly dan Pulau Paracels menjadi inti dari konflik wilayah perairan ini. Kedua pulau tersebut diklaim oleh hampir seluru pengklaim dari Laut China Selatan. Beberapa negara yang berusaha untuk memperebutkan hak kepemilikan atas kedua pulau ini adalah China, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Alasan logis kenapa negara-negara tersebut berlomba-lomba untuk mendapatkan kedaulatan di kawasan laut ini karena memang di kawasan ini tersimpan sejumlah alasan kuat untuk diperebutkan. Sebut saja kandungan gas alam dan minyak bumi yang demikian melimpah tentulah akan menjadi keuntungan besar bagi pemenang dari konflik berkepanjangan ini. Selain itu, lautan ini merupakan salah satu perairan yang paling sibuk di dunia. Hampir setengah kapal-kapal dunia melalui Laut Cina Selatan yang merupakan penghubung penting perdagangan Asia dan Eropa. Sebagian besar diantara kapal-kapal tersebut berlayar dari kawasan Timur Tengah membawa muatan minyak bumi.[4]
Klaim yang tumpang tindih semakin meningkat selama terjadi krisis minyak tahun 1973 dan berlakunya UNCLOS secara efektif menyebabkan munculnya konflik dan gesekan militer diantara mereka yang bersengketa. Oleh karena itu Laut China Selatan merupakan salah satu area panas di dunia saat ini.
Selama ASEAN belum mampu mengatur suatu rumusan mekanisme resolusi bagi penyelesaian sengketa di perairan Laut China Selatan,maka potensi konflik kelihatannya sulit dihindari. China bahkan mengklaim sebagian besar perairan tersebut ,yang menimbulkan bentrokan dengan beberapa negara lain di kawasan itu seperti Philipina,Vietnam,Brunai Darussalam dan lainnya. Sebenarnya apakah yang menjadi penyebab negara-negara tersebut begitu bersemangat dalam mendapatkan kepemilikan atas pulau-pulau ini? Apakah sebenarnya konflik yang terjadi hanyalah sebuah manuver politik China saja untuk mendapatkan pulau-pulau ini? Lalu apakah solusi terbaik yang bisa di ambil dalam menyelesaikan konflik ini?
B.  Isi
1. Sejarah Terjadinya Konflik Klaim Pulau Spratly dan Pulau Paracel
China mendeklarasikan memiliki bagian terbesar teritori Laut China Selatan, mencakup ratusan kilometer di selatan dan timur Hainan, provinsi paling selatan negara itu. China mengklaim berhak berdasarkan sejarah berusia dua ribu tahun yang menyatakan Paracel dan Spratly sebagai bagian integral bangsa China. Pada tahun 1947 China menerbitkan sebuah peta yang memerinci klaim wilayahnya, tentu saja menyertakan kedua kepulauan tersebut.
Taiwan, yang memiliki nama resmi Republik China, juga mengklaim Paracel dan Spratly sebagai bagian teritorinya dengan alasan historis yang sama. 
Vietnam jelas menentang klaim peta China tersebut. Vietnam berpendapat China tidak pernah menyatakan kedaulatannya di kedua kepulauan tersebut sebelum tahun 1940-an. Sama seperti China dan Taiwan, Vietnam bersikeras Paracel dan Spratly ada di teritorinya. Vietnam menyatakan memiliki dokumen-dokumen yang membuktikan telah berkuasa di Paracel dan Spratly sejak abad ke-17.
Sedangkan Filipina hanya menginginkan Spratly. Yang kerap menjadi sengketa adalah Beting Scarborough, berjarak 160 km dari pulau terluar Filipina dan sekitar 800 km dari daratan terdekat China.
Berdasarkan Konvemsi PBB tentang Hukum Laut yang menetapkan zona ekonomi eksklusif tidak boleh melebihi 200 mil laut (sekitar 321 km) dari garis pangkal pengukuran lebar laut teritorial , Malaysia dan Brunei Darussalam mengklaim memiliki beberapa pulau kecil di gugus Spratly. Militer Malaysia telah menduduki tiga pulau kecil di gugus kepulauan tersebut, sedangkan Brunei menyatakan memiliki bagian terselatan Spratly.
Alasan utama sengketa perebutan wilayah Laut China Selatan adalah kandungan gas alam dan minyak buminya. China menerbitkan estimasi tertinggi, menyatakan Paracel dan Spratly mungkin mengandung 213 miliar barel minyak bumi. Angka ini sekitar tujuh kali lipat perkiraan para peneliti Amerika Serikat. Gas alamnya pun melimpah. Menurut Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat, Laut China Selatan memiliki sekitar 25 triliun meter kubik gas alam, sama besar dengan cadangan gas alam Qatar. Belum lagi kekayaan ekosistem perairannya. Selain itu, lebih dari 50 persen perdagangan dunia melewati Laut China Selatan. Lokasinya pun strategis untuk pos pertahanan militer.
Urusan tuduh-menuduh bukan hal baru dalam sejarah sengketa Laut China Selatan. Tahun lalu Filipina menuduh China masuk tanpa izin ke wilayah perairannya dan mencoba mengganggu sebuah eksplorasi minyak bumi lepas pantai di dekat Pulau Palawan. Filipina juga menuduh China mencoba membangun pertahanan militer di Spratly.
Vietnam juga pernah menuduh China mencoba menyabotase dua operasi eksplorasi Vietnam. Tuduhan ini memicu protes anti-China di jalan-jalan di Hanoi dan Ho Chi Minh. Sebaliknya, China menuduh Vietnam memprovokasinya karena pernah melakukan latihan menembak di salah satu pesisirnya. Jadi tidak kita seharusnya tidak heran lagi jika konflik ini sekarang kian memanas karena sebenarnya konflik saling klaim wilayah ini sudah lama terjadi dan bukan merupakan sesuatu yang baru.
2. Penyebab Spratly dan Paracel Diperebutkan
Dari semua sengketa barangkali yang menarik ialah Kep Spratly. Kenapa demikian, betapa geografisnya memiliki leverage dibanding pulau-pulau lain. Artinya selain merupakan jalur perairan internasional, ia dianggap strategis dari aspek pertahanan karena geo-possition dan yang utama ialah kandungan sumber daya alam (SDA) berupa minyak dan gas alam. Lebih signifikan sebenarnya dari kajian geopolitik, artinya jika menguasai Spratly berarti akan mengontrol lintasan rute pelayaran antara Pasifik atau Asia Timur menuju Lautan Hindia.
Penemuan minyak dan gas bumi pertama di kepulauan ini tahun 1968. Perkiraan kandungan minyak di Kep Spartly ialah 10 milyar ton (International Herald Tribune, 3 Juni 1995), tetapi The Geology and Mineral Resources Ministry of the People's Republic of China memperkirakan kandungannya sekitar 17,7 miliar ton.
Lain Spratly lain pula leverage Kep Paracel. Meski daratannya berkarang lagi tandus, namun urgendi Cina atas kepulauan tersebut tak kalah penting dibanding Spratly. Oleh karena dari aspek keamanan bisa mengawasi gerak navigasi di bagian utara Laut Cina Selatan. Secara geostrategi, menguasai dua kepulauan tersebut bisa menjadi “batu loncatan” menyerang Daratan Asia.
Tatkala Cina menerbitkan kebijakan ”Empat Modernisasi” Era 1978-an bidang administrasi, politik, ekonomi, dan pasar keuangan. Sepertinya harus dibarengi hasrat menjadi kekuatan maritim yang dominan di Laut Cina Selatan. Maka semenjak itulah Laut Cina Selatan, di mata Negeri Tirai Bambu menjadi kawasan strategis bernilai politis dan ekonomis sebab 80% impor minyaknya melalui jalur ini. Disini tersirat makna bahwa selain terkandung potensi konflik tinggi terkait distribusi minyak, mengharuskan ia mutlak bekerjasama dengan negara-negara lain di sekitar kawasan. Singkat kata bahwa Kepulauan Spratly dan Paracel menjadi rebutan berbagai negara karena faktor geopolitik, baik berupa kandungan minyak dan gas bumi maupun geostrategy possition di jalur perairan internasional.
C.      Solusi Penyelesaian Konflik
Melihat begitu peliknya kasus laut china selatan ini, sebelum terjadinya masalah yang begitu besar dan bisa menelan korban jiwa maka perlu adanya suatu kebijakan untuk menjadikan wilayah Pulau Spartly dan Pulau Paracel sebagai wilayah buffer state atau wilayah penyanggah.
Dengan dijadikannya Pulau Spartly dan Pulau Paracel sebagai wilayah buffer state maka ini akan berfungsi untuk memisahkan negara-negara tersebut akan terjadinya perang. Konflik laut china selatan ini jika dibiarkan begitu saja dapat menyulut konflik yang lebih besar lagi, oleh karena itu penetapan buffer state bagi Pulau Spartly dan Pulau Paracel ini sangat tepat dilakukan apabila tetap ingin menjaga kestabilan dan kedamaian dunia ini. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain penetapan wilayah kedua pulau ini sebagai wilayah buffer state. Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam hal ini sangat dibutuhkan, karena PBB memiliki andil besar untuk mengurusi masalah internasional ini. Dengan ditetapkannya Pulau Spartly dan Pulau Paracel sebagai wilayah buffer state maka tidak akan ada lagi konflik di antara negara-negara di kawasan ASEAN dan China.
Potensi sumber daya alam yang ada di kedua pulau ini nantinya akan ditangani oleh PBB , para generasi muda mengambil andil besar untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Melalui UNESCO generasi muda mendirikan pusat penelitian dan pengembangan di kedua pulau ini. Mereka nantinya akan melakukan penelitian di kedua pulau ini untuk mengembangkan potensi alam yang ada. Dengan semangat dan pemikirannya yang cerdas generasi muda mampu mengolah potensi sumber daya alam di pulau ini. Hasil dari sumber daya alam yang dikelola oleh generasi muda ini akan dikelola oleh IBRD untuk pembangunan berkelanjutan di negara-negara dunia ketiga yang masih sangat membutuhkan bantuan untuk perbaikan perekonomian di negara mereka.
Adanya solusi ini tidak hanya menyelesaikan konflik di kawasan laut china selatan tetapi juga bisa membantu memperbaiki perekonomian di negara dunia ketiga.
           




[1] Judul essay yang diajukan untuk Olimpiade Ilmu Sosial 2012
[2] Siswa SMAN 2 SEKAYU, Kab.Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
[3] Ign. Agung Satyawan, Komunikasi Negosiasi China terhadap Penyelesaian Sengketa Laut China Selatan, Surakarta.

[4] Anonim, Laut China Selatan, Potensi Konflik Dunia, http://adeltuslolok.com/2012/05/05/laut-china-selatan-potensi-konflik-dunia/ , diakses tanggal 29 Agustus 2012.

Jumat, 20 Juli 2012

Hilangnya Titian Muhibah Itu

Hilangnya Titian Muhibah Itu

PADA masa pemerintahan Soeharto, pemirsa televisi Indonesia secara rutin disuguhi Titian Muhibah, suatu acara hiburan yang menampilkan penyanyi Indonesia dan Malaysia. Pada acara itu, penyiar televisi dari dua negara bisa saling berkomunikasi secara langsung. Indonesia menampilkan para penyanyi yang terkenal tidak saja di Tanah Air, tetapi juga di Malaysia. Malaysia juga menghadirkan penyanyinya yang dikenal luas di Indonesia. Benar-benar suatu titian muhibah. Bangsa serumpun bisa tampil menghibur bersama-sama.

Ruth Sahanaya dan Band Karimata tampil dalam acara "Titian Muhibah" di TVRI, tahun 1990. (Dok SP/HY)

Acara Titian Muhibah itu sudah lama menghilang bersama tumbangnya rezim Soeharto. Hubungan kultural yang manis itu bagai tak berbekas lagi. Yang muncul belakangan justru ketegangan-ketegangan budaya. Ketegangan itu dimulai ketika Malaysia mengklaim batik, Reog Ponorogo, Tari Indang Bariang, dan lagu Rasa Sayange sebagai miliknya dalam dua tahun terakhir.

Masalah-masalah tersebut belum tuntas diselesaikan, kini datang masalah baru, yakni pengakuannya Tari Pendet sebagai miliknya. Tarian Pendet muncul dalam iklan promosi program (teaser) Discovery Channel berjudul Enigmatic Malaysia. Enigmatic Malaysia adalah judul dari enam film dokumenter yang diproduksi oleh sebuah rumah produksi Malaysia bernama KRU Studios Production untuk memperingati kemerdekaan Malaysia. Rumah produksi Malaysia itu memiliki cabang di Indonesia, Singapura, dan beberapa negara Eropa.

Enam film dokumenter itu adalah The Malaccan Portuguese-Preserving Their Heritage, Bajau Laut-Nomads of the Sea, Keris-the Myth and the Magic, Kellie's Castle-Myth and Mystery, Batik, dan Wau. Pihak KBRI di Malaysia telah mengadakan klarifikasi dengan pihak KRU Studios Production yang mengakui memang Tari Pendet ditampilkan dalam salah satu film yang akan ditayangkan oleh Discovery Channel.

Nota Protes

Rakyat Indonesia terkejut dengan klaim tari itu seakan milik Malaysia. Menariknya, Pemerintah Malaysia juga justru terkejut. Pengklaiman tersebut telah membangkitkan reaksi keras dari berbagai kalangan di Indonesia. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik melayangkan nota protes kepada Pemerintah Malaysia, terkait klaim Malaysia atas Tari Pendet sebagai kekayaan budayanya dalam iklan yang ditayangkan Discovery Channel. Menbudpar meminta penayangan iklan itu dihentikan. Dalam konferensi pers di kantornya, Menbudpar mengemukakan telah memanggil Duta Besar Malaysia, namun yang hadir adalah Wakil Duta Besar Malaysia Amran Mohammad Zein menggantikan duta besar yang sedang pada proses penggantian dari pejabat lama ke pejabat baru.

Tidak hanya seniman Bali yang protes keras. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun angkat bicara. Presiden berharap Pemerintah Malaysia menjaga sensitivitas rakyat Indonesia, sebab tarian itu sungguh-sungguh berasal dari Bali-Indonesia. Karena itu, dia menganggap protes Pemerintah Indonesia terhadap klaim Pemerintah Malaysia tidak berlebihan.

Menurut Presiden, beberapa tahun lalu, atas inisiatifnya Indonesia dan Malaysia membentuk eminent person group (EPG) yang khusus mengelola permasalahan, persengketaan antarkedua bangsa, termasuk isu-isu tentang hak cipta dan karya budaya, serta karya peradaban di antara kedua bangsa. "Dengan semangat itu, kita ingin menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia. Berkaitan dengan isu Tari Pendet yang menjadi bagian dari iklan di Malaysia itu, ke depan, pemerintah Malaysia sungguh memberikan atensi, menjaga perasaan masyarakat Indonesia, memelihara hubungan baik dan eminent person group bisa difungsikan untuk mencegah hal-hal seperti sekarang. Ini harapan saya dengan semangat, sekali lagi untuk menjaga dan memelihara hubungan baik," jelas Presiden.

Protes terhadap Malaysia, menurut Presiden, juga bertujuan untuk kebaikan hubungan masa depan ke dua negara. Indonesia dan Malaysia, misalnya, telah melakukan kerja sama di bidang ketenagakerjaan. Warga negara Indonesia yang bekerja di sana berjumlah sekitar 1,8 juta orang. Masalah tenaga kerja ini juga sensitif dan banyak muncul. Namun, ada kemajuan kerja sama antarkedua pemerintah.

Kalau masyarakat Indonesia geram dengan klaim Malaysia terhadap Tari Pendet, bisa dipahami. Entah apa lagi milik Indonesia yang akan diklaim sebagai milik mereka. "Bisa jadi Candi Borobudur adalah berikutnya," kata sastrawan Remy Silado. Remy menengok ke masa lalu. Pada tahun 1957, Malaysia mencomot lagu asli Indonesia yang berjudul Terang Bulan. Pada saat itu, Malaysia sedang mempersiapkan diri untuk menyambut kemerdekaannya, yang jatuh pada tahun 1958. Lagu Terang Bulan, yang muncul di Indonesia pada masa Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), diminta oleh Malaysia untuk dijadikan lagu kebangsaan mereka.

Tersadar

Klaim yang dilakukan Malaysia membuat kita bangun dari tidur dan kemudian menyadari betapa kaya bangsa kita dalam memiliki keanekaragaman budaya. Kita geram pada Malaysia atas ulahnya yang mengambil kebudayaan kita. Kita baru memberi perhatian setelah ada harta budaya kita diambil orang.

Kecolongan budaya yang kita alami seharusnya bisa menjadi bahan refleksi. Apakah kita sudah cukup memperhatikan kebudayaan kita? Bukankah selama ini kebudayaan masih terpinggirkan? Pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli. Padahal, kebudayaan itu menjadi identitas suatu bangsa yang memiliki manfaat bagi suatu bangsa. Indonesia begitu diberkati karena memiliki beragam budaya yang tidak ada duanya di dunia.

Kita tidak boleh berpangku tangan lagi untuk mempercepat inventarisasi semua kekayaan anak bangsa dan dipatenkan, baik untuk tingkat nasional maupun dunia sebagai bagian dari world heritage. Kita harus peduli dan rajin mencantumkan semuanya itu menjadi karya kita. Jadi, kita sendiri sudah harus semakin peduli, tatanan dunia sekarang ini

Sejauh ini, sejumlah kekayaan budaya Indonesia sudah diakui oleh lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO. Lembaga itu sudah mengakui dan menerima wayang dan keris sebagai global heritage. Saat ini yang masih ditunggu pengakuan oleh lembaga yang sama adalah batik dan angklung. Diharapkan, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi kedua hal itu juga diterima oleh UNESCO sebagai karya Indonesia.

Kita perlu belajar banyak dari sejumlah kasus pengklaiman budaya kita oleh Malaysia. Sebagai bangsa serumpun seharusnya kita menjalin titian muhibah. Namun, beberapa kasus pengklaiman telah membuat titian muhibah itu putus. Kita berharap titian muhibah yang sudah ada sebelumnya janganlah menjadi titian musibah. Dua penari Pendet dalam iklan yang ditayangkan Malaysia tersebut merupakan alumnus ISI Denpasar. Bukankah itu menjadi bukti hubungan yang bagus selama ini?

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura-pura di Bali. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi tari "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukan yang memerlukan pelatihan intensif, Tari Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pria dan wanita. [W-9]

Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 30 Agustus 2009

Kamis, 19 Juli 2012

Klaim Budaya Indonesia oleh Malaysia (Kajian Kritis Klaim Tari Tor-Tor)


Klaim Budaya Indonesia oleh Malaysia (Kajian Kritis Klaim Tari Tor-Tor)[1]
(Oleh Danu Wijaya, Oktovia Rezki N.H, dan Wahyu Andika Romadhoni)[2]

A.     Pendahuluan
Masyarakat di tanah air kembali heboh dengan perselisihan budaya antara Malaysia dan Indonesia. Kali ini giliran Tari Tor-Tor dan Gordang Sambilan. Dua budaya Mandailing ini mendapat rencana  akan diregistrasikan ke dalam warisan budaya Malaysia agar dapat dilestarikan”[3].
Fenomena di atas tidak lazim lagi kita temukan sekarang, polemik Indonesia Malaysia masih terus mencuat akhir-akhir ini. Berbagai media banyak memberitakan perihal masalah Indonesia Malaysia. Pasalnya Negeri Jiran tersebut telah melakukan sejumlah pengklaiman budaya Indonesia. Masyarakat di tanah air kembali dibuat gerah dengan perselisihan budaya antara Malaysia dan Indonesia. Kali ini Negeri Jiran itu akan mendaftarkan Tari Tor-Tor dan Gordang Sambilan, dua budaya Mandailing, dalam warisan budaya mereka[4].
 Indonesia mempunyai kekayaan budaya yang berlimpah dari Sabang sampai Merauke. Sedangkan Malaysia dalam hal budaya tidak seberapa besar kekayaannya, apabila di banding dengan bangsa sebesar Indonesia[5]. Melihat kekayaan budaya Indonesia yang begitu besar itulah yang membuat Malaysia mulai membangun jati dirinya dengan mengambil kebudayaan Indonesia. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir Malaysia sudah 7 kali mengklaim budaya Indonesia sebagai warisan budaya mereka. Klaim Malaysia dimulai pada November 2007 terhadap kesenian Reog Ponorogo. Selanjutnya pada Desember 2008, saat itu Malaysia mengklaim lagu "Rasa Sayange", disusul dengan batik yang diklaim Malaysia pada Januari 2009. Selanjutnya ada Tari pendet dari Bali dan alat musik angklung yang juga diklaim oleh mereka[6].
 Sebagai masyarakat Indonesia, kita tidak bisa menutup mata jika  Indonesia memiliki budaya yang sangat banyak. Sedikit mengutip dari Kompasiana, Buku Ilmu Budaya Dasar Universitas Gunadarma bahwa budaya yang seharusnya jadi kebanggaan bangsa Indonesia itu terkadang sering dilupakan dengan masuknya budaya modern.
Kebudayaan yang dilupakan oleh bangsa inilah yang membuat momok  besar bagi Malaysia untuk melakukan sejumlah klaim budaya. Termasuk salah satu kesempatan besar yang diambil oleh Malaysia adalah Tari Tor-Tor. Berangkat dari hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengungkapkan misteri dibalik pengklaiman Tari Tor-Tor ini, sebenarnya apa tujuan Malaysia dibalik pengkaliman  tari Tor-Tor ini? Lantas apa yang menyebabkan Negeri Jiran tersebut begitu tertarik mengklaim budaya Indonesia? Lalu bagaimanakah solusi terbaik yang bisa ditawarkan untuk menghadapi polemik Indonesia-Malaysia ini?
B.      Isi
1.      Sejarah Klaim Budaya Indonesia oleh Malaysia
Issue klaim budaya ini sudah dimulai sejak zaman dahulu kala daerah (kawasan Asia Tenggara terutama termasuk tanah melayu) ini berubah-ubah kekuasaan serta rajanya. Dahulu ada kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Sriwijaya kekuasaannya meliputi Sumatera Bagian Timur termasuk semenanjung malaka (Malesa Barat saat ini). Kemudian daerah ini diserang oleh Majapahit. Dan akhirnya daerah kekuasaan Sriwijaya ini dikuasai Majapahit.
Majapahit inilah yang sering menjadi lagu dan dongengan serta lamunan indah yang dibanggakan sebagian rakyat Indonesia bahwa “dahulu” pernah ada kekuasaan yang pernah besar menguasai Asia tenggara hingga Filipina dan berpusat di Jawa. Sementara di sisi lain di Sriwijaya sendiri Pangeran Sriwijaya Parameswara dengan para pengikutnya juga mendirikan kerajaan Melaka membentuk kesultanan Melaka. Ketika Kasultanan itu berkembang, Majapahit sudah mulai memudar sekitar 1400-an. Pusat Melaka ini ada di Negeri Melaka saat ini. Kesultanan Melaka inilah yang selalu menjadi dongengan indah dan manis bagi Rakyat Malesa saat ini[7].
Saling klaim daerah ini sudah ada sejak zaman raja-raja dahulu. Sangat wajar kalau ada sedikit kekesalan Sultan Melaka yang terusir dari Sriwijaya yang berpusat di Palembang ini. Jadi, sewajarnya kita sebagai bangsa Indonesia tidak perlu heran lagi jika sekarang sedang maraknya pengklaiman budaya yang dilakukan oleh Negeri Jiran tersebut. Karena pengklaiman tersebut sudah terjadi sejak zaman nenek moyang kita hidup dan sebenarnya Malesa sedang melakukan proyek utama untuk mencari jati diri mereka apakah akan menjadi bangsa Melayu, Bangsa India atau Bangsa China. Hanya waktulah yang akan menjawab semua itu.
2.      Penyebab Terjadinya Klaim Tari Tor-Tor
Dibalik pengklaiman tari Tor-Tor yang dilakukan oleh Malaysia itu sendiri, ternyata hanya ada empat akar permasalahan yang memicu terjadinya klaim budaya tersebut. Pertama Malaysia merupakan negeri yang  sedang mencari jati diri budayanya. Dalam kurun sepuluh tahun terakhir ini Malesa memang sedang “moncer” kata orang jawa, bahasa gaulnya sedang jadi “belalang” alias “naik daun“. Namun karena memang secara sejarah Malesa tidak memiliki hal yang khusus maka Malesa pun harus memulai dengan mencari jati dirinya dengan mencoba mengklaim sana-sini.
Kedua Malesa masih menggunakan cara lama untuk “mendekatkan diri” dengan Indonesia, mereka menarik minat dengan merayu menggunakan issue serumpun (melayu) dan seiman (muslim). Malaysia telah mengetahui kelemahan Indonesia yakni tidak kuat menjaga identitas Melayu. Karena itu, Malaysia dengan mudah mengakui budaya Indonesia sebagai bagian budaya negaranya.
Ketiga pemerintah indonesia baru bertindak setelah kebudayaannya diklaim oleh negara lain dan keempat  sebagian besar masyarakat Indonesia belum menjadikan usaha menjaga dan melestarikan sebagai sebuah kebutuhan. Misalnya, saat kita berusaha untuk melestarikan tari Tor-Tor di masyarakat, kita juga harus mengetahui asal-usul sejarah tari Tor-Tor tersebut dan mengetahui makna yang terkandung di dalam tarian tersebut. Dengan demikian, masyarakat akan teredukasi dengan baik soal kekayaan budaya yang dimiliki.
            Dari keempat akar permasalahan pengklaiman tersebut, Malaysia sebenarnya memiliki tujuan lain dibalik semua itu. Jika kita melakukan analisa, Malaysia melakukan klaim tari Tor-Tor ini, sepertinya sangat hati-hati sekali. Hal itu terlihat dari prosedur yang diterapkan sebelum mengklaim. Malaysia membuat sejumlah jadwal yang rutin, konsisten, dan terjadwal dengan baik. Sehingga, targetnya Malaysia bisa mempromosikan kegiatan seni dan budaya tersebut untuk menggaet turis asing ke negaranya. Karena logikanya begini, ketika turis dari berbagai penjuru dunia ingin menyaksikan pertunjukan budaya dari berbagai suku bangsa, terutama di wilayah Asia atau Asia Tenggara, maka belum tentu turis itu bisa menemukan pertunjukan yang ingin ditonton itu di negara asal pemilik budaya itu, misalnya Indonesia. Bisa saja di negara asalnya, pertunjukan budaya itu tidak dilakukan dengan rutin, tidak ada jadwal pertunjukan yang pasti, dan tidak ada informasi dan promosi yang memadai.

   Solusi untuk Mengatasi Pengklaiman Tari Tor-Tor
    Terkait dengan klaim tari Tor-Tor oleh Malaysia, tidak ada cara lain yang bisa kita tempuh untuk menyelamatkan kesenian asal Mandailing tersebut. Peran generasi muda sebagai penyelamat budaya dalam hal ini sangat dibutuhkan, karena dengan ide-ide yang kreatif dan cemerlang tersebut para generasi muda mampu membantu pemerintah dalam menyelesaikan kasus klaim tari Tor-Tor ini. Tapi anehnya, sebagai anak bangsa kadang kita tidak mengetahui dan kadang melupakan kebudayaan sendiri, sementara orang luar negeri malah tertarik dengan kebudayaan Indonesia yang unik, menarik dan khas. Hal inilah yang terkadang membuat rasa solidaritas diantara generasi muda kian menurun. Pudarnya nilai solidaritas inilah yang sering membuat kebudayaan kita sering diklaim oleh bangsa lain. Sebenarnya jika kita lebih bisa mencintai dan mengenal Indonesia lebih dekat lagi maka tidak akan terjadi hal seperti ini dan Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan keanekaragaman flora dan fauna serta hasil tambang dan hasil alam yang berlimpah dan ada yang menyebut negara Indonesia sebagai pulau Atlantis. Untuk itulah sudah seharusnya generasi muda yang meneruskan budaya yang sudah mulai terlupakan tersebut, dalam hal ini adalah tari Tor-Tor. 
     Dalam menanggapi kasus klaim tari Tor-Tor ini, pemerintah Indonesia harus segera membuat suatu Undang-Undang yang mengatur mengenai kebudayaan tradisional agar dapat melindungi aset kebudayaan tradisional milik Indonesia khususnya dalam hal ini adalah Tari Tor-Tor sehingga tidak diklaim oleh pihak lain. Dengan adanya pengukuhan didalam suatu Undang-Undang maka kebudayaan tersebut telah memiliki legitimasi hukum yang kuat.  Peran generasi muda dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk mensosialisasikan Undang-Undang kebudayaan yang telah dibentuk oleh Pemerintah tersebut.
      Banyak sekali kebudayaan yang sangat unik dan menarik dari Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan banyak provinsi dari Sabang hingga Merauke. Negara tercinta Indonesia patut bangga dengan keanekaragaman seni dan budaya yang tersebar di setiap daerah dan provinsi, tetapi keberagaman budaya ini tentunya tidak akan mengurangi semangat solidaritas diantara para pemuda. Budaya Indonesia merupakan salah satu bentuk kepribadian bangsa kita. Pendeknya jika bangsa Indonesia tercerai berai maka budaya Indonesia tidak akan bisa terbentuk dan bersatu. Begitu pula kepribadian Indonesia lama-lama akan terhapus. Apabila para pemuda di setiap daerah yang ada di Indonesia bersatu untuk mendukung kegiatan sosialisasi ini maka kasus klaim budaya seperti ini tidak akan terjadi lagi diantara Indonesia dan Malaysia.
       Kegiatan sosialisasi dari Undang-Undang kebudayaan ini dapat dilakukan oleh para pemuda melalui pembentukan media komunikasi diantara kedua negara Indonesia dan Malaysia. Media komunikasi tersebut nantinya dibentuk sebagai semacam media untuk berkomunikasi di antara kedua negara sehingga jika ada masalah-masalah budaya bisa dibicarakan secara lebih intensif, lebih langsung, dan lebih bersahabat. Dengan begitu, tidak menimbulkan kesalahpahaman atau letupan-letupan di kalangan masyarakat yang mungkin ada salah pengertian mengenai masalah itu. Media komunikasi yang digagas itu di antaranya menghidupkan kembali acara titian muhibah yang sebelumnya pernah diselenggarakan kedua negara. Siaran berita kedua negara pun digagas dihidupkan kembali agar bisa mempererat tali persaudaraan di antara ke dua negara tersebut. Sebenarnya perselisihan antara kedua negara tersebut sangat tidak diinginkan oleh kita para generasi muda, karena hanya akan menimbulkan perpecahan kedua bangsa. Untuk itulah adanya media komunikasi merupakan solusi yang tepat dan diharapkan mampu menumbuhkan semangat solidaritas kedua bangsa melalui peran pemudanya.
       Para pemuda juga dapat mengambil peran melalui acara titian muhibah yang diselenggarakan oleh kedua negara, sehingga acara yang dibawakan bisa dikemas dengan semenarik mungkin dan tidak meninggalkan kesan bosan bagi para pemuda zaman sekarang. Acara titian muhibah tersebut tidak hanya berupa siaran berita antar kedua negara tetapi juga sebagai bentuk acara hiburan suatu acara hiburan yang menampilkan penyanyi Indonesia dan Malaysia. Pada acara itu, penyiar televisi dari dua negara bisa saling berkomunikasi secara langsung. Indonesia menampilkan para penyanyi yang terkenal tidak saja di Tanah Air, tetapi juga di Malaysia. Malaysia juga menghadirkan penyanyinya yang dikenal luas di Indonesia. Benar-benar suatu titian muhibah. Bangsa serumpun bisa tampil menghibur bersama-sama. Dengan begitu para pemuda akan lebih mengetahui kebudayaan negaranya sendiri dan lebih mencintai solidaritas antar kedua bangsa. Dengan adanya dua solusi tersebut, ada baiknya kita berpikir jika klaim budaya ini merupakan moment positif untuk menumbuhkan semangat solidaritas antar kedua bangsa.
Kesimpulan
1. Akar permasalahan yang menyebabkan terjadinya pengklaiman tari Tor-Tor oleh Malaysia yaitu: Malaysia merupakan negeri yang sedang mencari jati diri budayanya, alasan serumpun dan seiman (muslim), Indonesia baru bertindak setelah diklaim, dan masyarakat Indonesia tidak menjadikan budaya sebagai suatu kebutuhan. Dan tujuan dari pengklaiman oleh Malaysia tersebut tidak lain untuk mendapatkan keuntungan dengan menggaet wisatawan asing ke ngerinya .
2.Solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penggagasan media komunikasi Indonesia-Malaysia dan pembuataan Undang-Undang Kebudayaan sebagai legitimasi hukum yang kuat.


[1] Diajukan untuk Essay Writing Competition OIS 2012
[2] Siswa-siswi SMAN 2 SEKAYU, KAB.MUSI BANYUASIN, SUMATERA SELATAN
[7] I Wayan Badrika, Sejarah untuk SMA Kelas XI Program Ilmu Alam, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2006, hlm.47.

Minggu, 08 Juli 2012

Kunjungan Sejarah Ke Objek Bersejarah Di Palembang

Mencintai Kekayaan Sejarah di Kota Pempek


Waa..ngak kerasa tahun ajaran baru segera tiba sebentar lagi. Ternyata masih ada serentetan tugas yang harus diselesaikan oleh kami para siswa yang duduk di kelas XI.IPA ini, ya..ternyata guru kesenian kami ms.meri memberikan tugas untuk membuat video dokumenter tentang objek2 bersejarah. Awalnya ini cukup berat untuk kami para siswa yang sedang dilanda demam ujian karena 2 minggu lagi kami akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Tetapi, teman2 ku justru nyeletuk "Kenapa kita ngak coba ke Palembang aja bwt nyari objek bersejarah itu." Mmm..awalnya kami sih, ngak setuju karena waktunya ngak begitu cocok bwt kami para siswa yang sedang memiliki banyak ujian. Tetapi karena ingin sekedar refreshing dari kepenatan belajar akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke tempat2 tersebut.

Usul punya usul akhirnya kami pun pergi ke beberapa tempat yang ada di Kota Pempek itu. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Balaputra Dewa. Kami berangkat pada tanggal 10 Juni 2012, hanya ada waktu 1 hari bagi kami untuk membuat tugas itu karena besoknya kami harus belajar seperti biasa. Tepat pukul 5 pagi kami berangkat dari kota langit ini (baca: Sekayu)..ahhahaa, temen2 aku sih biasanya bilang kalau kota Sekayu yang terletak di SUMSEL ini adalah kota  Langit. Ntah, apa yang membuat mereka memberi nama Sekayu sebagai Kota Langit, mungkin diambil dari singkatan SEKAYU  itu sendiri yang memang klw disingkat menjadi "SKY" yang artinya langit. Jarak kota Sekayu ke Palembang tidak cukup jauh hanya memakan waktu 3 jam bagi kami untuk sampai ke sana.





Perjalanan Ke Kota Palembang

1.Museum Balaputra Dewa
Museum ini dibangun pada tahun 1877 dengan arsitektur tradisional Palembang di atas area seluas 23.565 meter persegi dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Pada mulanya museum ini bernama Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan, selanjutnya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1223/1999 tanggal 4 April 1990. Museum ini diberi nama Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan “Bala Putra Dewa”. 


Nama Bala Putra berasal dari nama seorang raja Sriwijaya yang memerintah pada abad VIII-IX yang mencapai kerajaan maritime. Di museum ini terdapat koleksi yang menggambarkan corak ragam kebudayaan dan alam Sumatera Selatan. Lokasinya terdiri berbagai benda histrografi, etnografi, feologi, keramik, teknologi modern, seni rupa, flora dan fauna serta geologi. Selain terdapat rumah limas dan Rumah Ulu Ali, kita dapat mengunjunginya dengan menggunakan kendaraan umum trayek km 12.


Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang dulu dikenal dengan Museum Balaputra Dewa dibangun pada tahun 1978 dan diresmikan pada 5 November 1984. Museum ini dikelola oleh Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Selatan.



Musem Negeri Provinsi Sumsel ini dibangun dengan arsitektur tradisional Palembang pada areal seluas 23.565 meter persegi. Di museum ini terdapat sekitar 3.800 koleksi, terdiri berbagai macam jenis koleksi yang diklasifikasikan menjadi 10 jenis, di antaranya Geologika, Biologika, barang-barang tradisional Palembang, ofset binatang dari berbagai daerah di Sumatera Selatan dan beberapa miniatur rumah di pedalaman. Terdapat pula replika prasasti dari arca kuno yang pernah ditemukan di Bukit Siguntang. 


Selama ini museum cenderung dicitrakan sebagai bangunan ketinggalan zaman atau sepi sehingga suasananya membosankan, tetapi pihakmuseum telah memperbaikinya dengan memberikan kenyamanan kepada para pengunjung. Bagi masyarakat, keberadaan museum memberikan banyak manfaat. 



Pada tahun anggaran 2010, Museum Negeri Sumsel melakukan kegiatan pendataan dan dokumentasi koleksi Arkeologika museum Balaputra Dewa Palembang. Hal ini dianggap penting karena memudahkan administrasi koleksi dan dapat menjadi literatur tulisan para peneliti, mahasiswa dan pelajar. 



Secara periodisasi, koleksi arkeologi Museum Negeri Provinsi Sumsel ini (dulu Museum Balaputra Dewa) dapat diklasifikasikan menjadi tiga periodisasi masa, yakni masa pra sejarah, masa pra sriwijaya dan masa sriwijaya. 



Museum terbuka untuk umum mulai pukul 09.00 sampai 14.00 kecuali hari Senin, dan khusus hari Minggu dibuka pada pukul 08.00-14.00 Wib. Setiap pengujung dikenakan biaya masuk sebesar Rp 1.500 per orang dewasa dan Rp 1.000 per anak-anak. 



Dari pusat kota, lokasi museum ini dapat dicapai dengan kendaraan otolet, BRT atau taksi-taksi yang langsung ke halaman museum. Bagaimana ada yang tertarik ke Museum ini, kalian bisa pergi ke Jalan Sriwijaya I No.288 KM.5,5 Palembang jika kalian tertarik dengan wisata museum ini.


Mata kami pun dimanjakan dengan benda-benda unik yang ada di dalam museum, kami tidak bosan-bosannya berada di dalam sini. Tetapi kami harus berpaju dengan waktu, setelah puas berfoto2 di Museum ini kami pun menuju Jembatan Ampera.



















FOTO-FOTO di dekat Taman Museum Balaputra Dewa



 This is me, kiki :)
Lihat ngak songket dibelakangnya..yeah..isn't it beautiful?


Me and rima :D, eh..ada satu lagi arcanya ketinggalan


Mati gaya gw, ama si Gatu satu ini :P




Di depan pintu masuk ni,,,,,



2.Jembatan Ampera




Siapa yang tak tau dengan jembatan yang satu ini, kemegahan dari Jembatan Ampera ini sudah terkenal  di seluruh pelosok negeri. Jembatan yang dibangun di atas sungai Musi ini memang sepintas seperti jembatan biasa pada umumnya, tetapi jembatan Ampera berbeda dengan Jembatan pada umumnya, jembatan ini memiliki banyak kisah-kisah Sejarah yang ada dibalik pembangunan jembatan ini.  Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di Kota PalembangProvinsi Sumatera SelatanIndonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Struktur

Panjang : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)
Lebar : 22 m
Tinggi : 11.5 m dari permukaan air
Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara : 75 m
Berat : 944 ton

SEJARAH
Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.

Keistimewaan

Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.
Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.



Rumah Rakit di tepian Sungai Musi, Unik Bukan?


Rumah rakit pada jaman dulu, masih asli banget Palembangnya :)
 tambah bangga nii jadi rakyat Palembang dengan segala kekayaan budaya lokalnya

Ampera dimalam hari, isn't it beautiful?

Mata kami pun dimanjakan dengan pemandangan disebelah kanan dan kiri jembatan, ya ...betul sekali ada pemandangan sungai musi di sebelah kiri dan kanan sungai. Banyak sekali aktivitas penduduk yang dilakukan di atas sungai Musi ini. Nampaknya, Sungai Musi merupakan salah satu tombak perekonomian masyarakat Sumatera Selatan. Di sekitaran Ampera kita bisa menemukan objek wisata yang menarik seperti Rumah Rakit (rumah terapung yang berada di atas air), ada juga wisata kuliner yang bisa kita temukan di sekitaran sungai tetapi tenang saja kuliner-kuliner yang disajikan harganya sangat terjangkau bagi para wisatawan yang berkunjung dan sangat cocok sekali bagi kantong siswa-siswa SMA seperti kami...hahaha :D. Tidak hanya itu saja, bagi kalian yang tertarik dengan wisata air kalian bisa mencoba berkeliling sungai musi dengan menggunakan perahu motor yang disewakan oleh penduduk setempat dan tentunya juga masalah harga sangat terjangkau bagi para pengunjung. Pemandangan Ampera begitu menakjubkan jika dilihat pada waktu malam hari, oleh karena itu tak jarang para wisatawan juga banyak berkunjung ke sitaran Ampera ini pada malam hari. Setelah puas berkeliling Ampera kami pun perhi ketempat yang sangat menarik lagi di sekitar Ampera...kali ini lagi2 kami menuju ke Museum tetapi tenang saja jaraknya tidak terlalu jauh dari Ampera.

3. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Ya....welcome to museum sultan mahmud badaruddin II, kesan pertama datang ke Museum ini kerasa banget palembangnya. Soalnya Museum yang terletak tidak jauh dari Ampera ini menampilkan beragam kebudayaan Palembang yang semuanya di terangkum disini. Museum yang berbentuk rumah panggung ini tidak pernah sepi pengunjung, apa lagi jika dihari libur.  Tiket untuk masuk ke museum ini juga sangat murah lo, hanya dengan Rp.2000 kita bisa memasuki museum ini. Ngak usah banyak cerita ya..kita langsung aja yuk masuk  ke Museum ini.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II tampak  depan

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang berada di seberang Sungai Musi ini memiliki bentuk asli bangunan tidak berubah dari masa awal pendiriannya. Lokasinya di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2, Palembang.
Di museum ini Anda dapat menikmati sekitar 556 koleksi benda bersejarah, mulai dari bekas peninggalan kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang. Nama Sultan Mahmud Badaruddin II dijadikan nama museum ini untuk menghormati jasanya bagi kota Palembang.
Museum ini berdiri di atas bangunan Benteng Koto Lama (Kuto Tengkurokato Kuto Batu) dimana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) memerintah. Berdasarkan penyelidikan oleh tim arkeologis tahun 1988, diketahui bahwa pondasi Kuto Lama ditemukan di bawah balok kayu.
Benteng ini pernah habis dibakar oleh Belanda pada 17 Oktober 1823 atas perintah I.L. Van Seven House sebagai balas dendam kepada Sultan yang telah membakar Loji Aur Rive. Kemudian di atasnya dibangun gedung tempat tinggal Residen Belanda. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini dipakai sebagai markas Jepang dan dikembalikan ke penduduk Palembang ketika proklamasi tahun 1945.  Museum ini direnovasi dan difungsikan sebagai markas Kodam II/Sriwijaya hingga akhirnya menjadi museum dan

Jam berkunjung museum ini adalah Senin hingga Kamis08.00 – 16.00 WIB, Jumat08.00 – 11.30; serta  Sabtu dan Minggu09.00 – 16.00. Untuk hari libur nasional akan tutup.






Di dalam bangunan Museum


4.Kampung Kapiten



Kampung Kapiten

Tidak tahu persis kapan pertama kali etnis tionghoa menginjakkan kakinya kali pertamanya ke Palembang, banyak hal yang mesti digali dan diteliti kembali sejarah awalnya etnis tionghoa masuk ke Palembang, menurut Oey eng sui salah satu warga kampung kapitan etnis tionghoa, dari mulai 2005 sampai sekarang baru mulai digali lagi sejarahnya, kampung kapitan adalah tempat awalnya etnis tionghoa Kota Palembang bermukim dan berpusat disana. Tapi kejelasannya mesti digali kembali.

”Kalau berdasarkan silsilah temenggung TJua Ham Hin, sesepuh kami, berarti kampung kapitan telah ada sebelum 1850, beliau sendiri generasi ke sepuluh dari leluhur pertama kami, dan saya belum bisa menyebutkan silsilah dari awal, leluhur kami. Dan saya adalah mantu dari generasi ke 13, ”cerita pria yang sudah berambut putih ini.

Sejak abad ke 19 sampai 20 kampung kapitan sekaligus nilai-nilai budaya dan sejarahnya terkikis apalagi setelah zaman kemerdekaan, dulu pusat perdagangannya berada di 10 ulu dan itu termasuk wilayah Tjua Ham Hin china town atau sekarang menjadi sebutan kampung kapitan.

“Dulu kampung kapitan dikenal sebagai kota cina yang disebut china town luas wilayah kala itu adalah 20 hektar dan sepuluh ulu sekarang adalah pusat perdagangannya. Hingga sekarang Peninggalan bangunan leluhur etnis tionghoa yang tersisa adalah dua rumah panggung ini. Dulu ada tiga bangunan rumah leluhur kampung kapitan etnis tionghoa sekarang tingal dua rumah yang satunya sudah dijual, akibat masalah ekonomi dan terkikis oleh zaman,” tuturnya ketika disambangi dirumahnya peninggalan leluhurnya.

Kampung kapitan awalanya dihuni keluarga besar dari nenek moyangnya Tjua Ham Hin, awalnya pasti datang pertama kali ke Palembang membawa keluarganya beserta jajarannya, tukang masak, anak buah, dayang-dayangnya,” bisa-bisa ratusan orang mendatangi tempat ini tapi sekarang telah menyebar ke berbagai daerah, dan untuk kampong kapitan sendiri sekarang hanya tinggal belasan Kepala Keluarga (KK),” Katanya.
“Sejalan dengan waktu diantaranya terjadi perkawinan dengan penduduk setempat akhirnya etnis tionghoa bercampur jadi satu dan keturunannya Tjua Ham Hin juga menyatu menjadi rakyat biasa.

Ia juga menambahkan bahwa kampung kapitan yang beretnis tionghoa khususnya generasi Tjau Ham Hin berasal dari suku Provinsi Hok Kian Kabupaten ching chow, “asal muasalnya dari sana,” tambahnya.
Memang tak banyak yang bisa diceritakan dari sejarah awalnya kampung kapitan, karena minimnya data dan informasi, tapi bila ditilik dari garis keturunan leluhurnya yaitu generasi kedelapan Tjau Ham Him telah ada sekitar 1805, ia adalah leluhur orang tionghoa Kota Palembang dan seorang temenggung keluarga dan leluhurnyalah yang membawa etnis tionghoa ke Kota Palembang.

“Seorang temenggung pada zaman Belanda memiliki kekayaan melimpah ruah. Kira-kira temenggung itu dibawah walikota tapi diatas camat, kata Oei yang ragu menjelaskan setara dengan apa kalau jabatannya zaman sekarang.
  Di salah satu rumah di kampung ini juga ditemukan lukisan Kapiten yang konon katanya jika kita melihat dari 3 arah lukisan tersebut seolah2 melihat ke arah kita, percaya atau tidak silahkan buktikan sendiri untuk datang ke kampung kapiten ini.




Tempat peribadatan warga tionghoa


Lukisan Kapiten yang konon menyimpan cerita tersendiri




This is our team


Fiuuuh...akhirnya perjalanan yang melelahkan ini selesai juga. Terima kasih bwt kalian yang sudah mengikuti perjalanan kami dari awal sampai akhir. Ikuti terus cerita kami ini, sebagai anak sumsel saya merasa sangat bangga sekali, karena ternyata daerah saya menyimpan begitu banyak cerita sejarah dan ternyata sangat unik. Walaupun begitu masih ada stu tantangan lagi bagi kami generasi muda, yaitu mempertahankan dan terus melestarikan budaya tersebut agar tidak diklaim oleh bangsa manapun...
Go Indonesia, Go..Go..Go

ARIGATOU GOZAIMASU :)